hitcounter
Sunday , November 28 2021

Waspadai Lima Modus Pelaku Penipuan Online

Setidaknya ada lima modus penipuan online uang terjadi di ruang digital. Hal itu diungkapkan, Naghfir, Dosen UIN Malang & Praktiti Hukum, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Kamis (21/10/2021).

“Masyarakat untuk mewaspadai ragam modus penipuan online yang biasanya terjadi di ruang digital, seperti phishing, pharming, sniffing, money mule, dan social engineering,” ujarnya.

Ia menjelaskan, untuk modus penipuan berupa phishing biasanya dilakukan oleh oknum yang mengaku dari lembaga resmi dengan menggunakan telepon, e-mail atau pesan teks. Pelaku, biasanya mengaku seolah-olah berasal dari lembaga resmi dan berupaya menggali data-data pribadi.

“Data-data pribadi ini biasanya digunakan untuk kejahatan berikutnya. Mereka menanyakan dat-data sensitif untuk mengakses akun penting yang mengakibatkan pencurian identitas hingga kerugian,” katanya.

Ia menerangkan, masyarakat apabila mengalami hal ini, harus teliti membaca dengan benar dan melihat secara saksama isi dari SMS maupun email apakah benar pengirimnya berasal dari institusi asli.

Lanjutnya, modus kedua, adalah pharming handphone, yakni penipuan dengan modus mengarahkan korban kepada situs web palsu yang entri domain name system yang ditekan/di-click korban akan tersimpan dalam bentuk cache. Modus ini dapat memudahkan pelaku untuk mengakses perangkat pelaku secara ilegal.

Contohnya, biasanya pelaku membuat domain seolah-olah mirip dengan asal institusi dari yang aslinya, lalu akan memasang malware agar bisa mengaksesnya secara illegal.\

“Kasus seperti ini banyak terjadi umpamanya ada yang Whatsapp-nya disadap/diambil alih karena ponsel sudah dipasangkan malware oleh pelaku sehingga data-data pribadinya dicuri,” jelasnya.

Sedangkan, modus ketiga yakni sniffing atau modus yang digunakan oknum pelaku dalam meretas untuk mengumpulkan informasi secara ilegal lewat jaringan yang ada pada perangkat korban. Setelah itu, pelaku mengakses aplikasi yang menyimpan data penting pengguna.

Sniffing ini paling banyak terjadi bahayanya kalau kita menggunakan/mengakses Wi-Fi umum yang ada di publik, apalagi digunakannya untuk bertansaksi. Ini bahaya karena sniffing itu kan biasanya terjadi di jaringan yang umum diakses publik, di situlah pelaku memanfatkannya,” katanya.

Ia menjelaskan, modus keempat yakni money mule. penipuan jenis ini misalnya ada oknum yang meminta korbannya untuk menerima sejumlah uang ke rekening untuk nantinya ditransfer ke rekening orang lain.

“Kalau di luar negeri mereka berani kliring cek, kita dapat cek, tapi begitu kita periksa ternyata cek itu bodong. Begitu kita masukkan, kan kalau di sana prosesnya masuk itu muncul dulu di rekening kita, kalau ternyata tidak kliring, dipotong. Lalu, jika sudah digunakan, harus dikembalikan,” katanya.

Di Indonesia, biasanya pelaku akan meminta calon korban untuk pembayaran pajaknya dikirim terlebih dahulu. “Money mule ini biasanya ditanyakan pelaku dengan calon korban, maukah dapat hadiah atau pajaknya dikirim dulu. Jadi, sekarang itu masyarakat perlu berhati-hati karena money mule ini digunakan untuk money laundry atau pencucian uang,” katanya.

Ia mengatakan, kelima modus penipuan online, yaitu social engineering. Modus ini perlu diwaspadai agar tidak terjadi penipuan online. Melalui modus ini, pelaku memanipulasi psikologis korban hingga tidak sadar memberikan informasi penting dan sensitif.\

“Pelaku mengambil kode OTP atau password karena sudah memahami behavior target-nya. Dengan kata lain, masyarakat seringkali tidak sadar seringkali membagikan data-data yang seharusnya perlu dijaga,” katanya.

Ia menjelaskan penipuan online bisa berlangsung karena dinamika penggunaan ruang digital yang kian marak. Menurut dia, aktivitas transaksi di ruang digital dapat menimbulkan seseorang melakukan tindak kejahatan berupa penipuan online.

Apalagi, saat ini terdapat 202,6 juta pengguna internet di Indonesia. Karena itu, ia mendorong masyarakat waspada dengan mengenali modus pelaku penipuan online serta membiasakan diri melindungi data pribadi.

“Kita harus membuat password akun yang yang benar-benar tidak mudah ditebak. Kemudian sering-sering mengganti password, serta selalu melakukan update karena update software itu ada dua biasanya untuk meningkatkan fitur-fiturnya tapi juga untuk menutup lubang (keamanan) yang bisa menjadi peluang masuknya para penjahat untuk mengambil data,” katanya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Kamis (21/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Dr. Abdur Rohman (Wakil Dekan Fakultas Keislaman Universitas Trunojoyo Madura), Ridan Muhtadi (Dosen FEB IAI Miftahul Ulum Pamekasan & Kepala Dept. Riset Madura Idea Foundation), Edy Purwanto (Dosen Universitas Wiraraja), dan Moh. Salman Alfarisi, (Influencer & Content Creator) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply