hitcounter
Monday , September 20 2021

Waspada Konten Negatif di Ruang Digital

Ruang digital terasa begitu tidak nyaman jika sudah ada konten-konten negatif seperti yang melanggar kesusilaan. Makin banyak yang dibagikan oleh masyarakat biasa agar viral atau sengaja disebarkan oleh public figure.

Mereka tidak bisa bertindak sebagai orang yang seharusnya menjadi contoh masyarakat. Membagikan foto atau video yang sebenarnya melanggar kesusilaan yang tidak pantas dipertontonkan secara publik.

Dewi Tresnawati, Dosen Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengatakan, jenis konten negatif lain seperti penghinaan dan pencemaran nama baik. Biasanya dilakukan oleh mereka yang punya masalah dengan orang lain. Tetapi dibuat konten akhirnya menjadi viral permasalahan ranah pribadi malah masuk konten negatif. Pengancaman dan penyebaran berita bohong menyesatkan sehingga mengakibatkan kerugian penggunaan.

“Hoaks masih menjadi ancaman untuk kita semua, penyebarannya tidak terasa karena disebarkan oleh orang-orang yang tidak yakin kalau itu hoaks. Penyebaran kebencian dan permusuhan berdasarkan SARA karena masih menganggap sebuah perbedaan itu sebagai sebuah masalah sehingga selalu diujarkan kebencian,” jelasnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021).

Konten negatif Dewi sebut paling berbahaya adalah hoaks karena memanfaatkan masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan atau awam dalam mengelola informasi. Akhirnya menjadi tidak bijak dan menjadi penyebar hoaks. Mereka memanfaatkan orang-orang itu untuk terus menyebarkan berita bohong padahal berita bohong itu dapat mengakibatkan kerugian bagi orang lain bisa membuat pertikaian juga perpecahan dalam bangsa. Orang awam tersebut pun atau memang masyarakat biasa mengira berita hoaks itu sebagai berita benar.

“Karena seringkali berita yang mereka dapatkan langsung dari orang-orang mereka percaya, orang yang mereka lebih tua, orang yang lebih ahli sehingga mereka meyakini bahwa itu benar. Padahal kita bisa mencari tahu sendiri apakah itu benar atau tidak dengan mencari tahu di internet,” tuturnya.

Informasi hoaks juga mudah dipercaya karena kalimat sangat meyakinkan, Relawan TIK Jawa Barat ini menegaskan, memang merupakan sebuah jebakan oleh orang-orang yang membuat hoaks ini mereka juga pintar menulis meyakinkan pembaca dengan data-data yang disampaikan dikemas seakan-akan benar. Alasan lain ada terpengaruh pilihan politik, kalau kita sudah punya seseorang untuk diikuti atau organisasi tertentu atau jadi itu faktor-faktor yang bisa menjadi pengaruh kita dalam menerima informasi. Sebenarnya hoaks kita bilang itu tidak, terakhir ada terbawa ujaran kebencian karena mayoritas sudah membenci seseorang itu sehingga ketika ada berita baik mengenai orang itu bisa dianmggap tidak benar.

Selain hoaks, perundungan di dunia maya juga sangat banyak sekali terjadi hal-hal negatif di dunia digital. Ada hal ini juga sama bahayanya dengan hoaks yaitu dapat memunculkan rasa takut si korban dan bahkan perundungan maya ini juga bisa dibawa ke dunia luar jaringan atau dapat bertikai secara fisik.

Lantas dengan banyaknya hal-hal negatif di dunia digital, tindakan etis kita harusnya adalah menganalisis apakah itu merupakan contoh informasi negatif atau bukan lalu memverifikasi akun dan hal negatif tersebut yaitu kita mencari tahu kebenarannya.

Mencari tahu apakah memang ini sebuah tindakan perundungan atau bukan dan yang pasti kita tidak perlu mendistribusikan apapun yang kita yang bukan hal-hal yang bagus bukan hal positif lebih baik kita diamkan. Stop sampai di kita.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021) juga menghadirkan pembicara Zacky Badrudin (Visquares), Leviane Jackelin Hera Lotulung (Japelidi), Felix Kusmanto (Dosen dan Peneliti SDM), dan Aflanhandita sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply