hitcounter
Monday , October 18 2021

UMKM Bergantung Pada Ruang Digital 

Ruang digital memungkinkan orang dari seluruh penjuru dunia berinteraksi dan berkomunikasi di dalamnya. Semua itu berkat jaringan internet yang menghubungkan seluruh warga digital yang tak terbatas wilayah dan waktu. Semenjak pandemi interaksi di ruang digital pun jauh lebih tinggi daripada interaksi di dunia nyata.

“Sebagai UMKM, kita sangat bergantung pada ruang digital. Tidak hanya dalam mencari customer tapi juga mencari supplier, mencari karyawan atau recruitment, mencari social media agency untuk foto pruduct bantuin manage media sosial kita. Bahkan mencari infouencer untuk membantu membesarkan brand kita,” kata Cyntia Jasmine, Founder GIFU saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I, pada Senin (4/10/2021).

Bayangkan saja, dengan jaringan internet selama 60 detik sebanyak 26.000 aplikasi telah didownload, ada jutaan email terkurim, 694.000 video telah ditonton di TikTok, 350.000 tweet sudah diunggah, jutaan lagu didengarkan. Di ruang digital, unggahan setiap orang bisa langsung dilihat oleh ratusan hingga ribuan orang dan cepat sekali menyebarnya secara realtime. Sehingga rasanya seperti tidak ada batas, semua orang seperti punya panggung yang sama.

“Kalau tujuannya baik punya produk dan ingin terkenal maka ruang digital bagus bisa dimanfaatkan. Tapi kalau kita tidak punya tujuan, kadang kita jadi lupa, jadi over sharing,” katanya lagi.

Menurut Cyntia di ruang digital memang tidak ada batasnya. Namun, setiap orang harus menyadari dirinya sebagai pengawas diri sendiri sebab sebenarnya ada jejak digital yang ditinggalkan ketika berinteraksi di dunia maya. Dampak buruknya jika lupa hal tersebut, maka bisa saja seseorang dipecat dari pekerjaannya. Sudah banyak kejadian bahwa jejak digital bisa berdampak serius karena kata-kata dan unggahan foto yang tidak pantas. Selain itu jejak digital juga tidak bisa dihapus, akan tetap ada di internet.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Webinar kali ini juga mengundang nara sumber seperti Henry V. Herlambang, CMO Kadobox, Maria Natasya, seorang Graphic Designer, dan Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Kembali Pada Dasar Negara

Perubahan budaya terjadi sekarang ini sangat terlihat, bagaimana aktivitas yang biasa dikerjakan menjadi berubah. Perubahan …

Leave a Reply