hitcounter
Monday , September 20 2021

Transformasi Digital Tetap Harus Menerapkan Etika dan Norma Kesopanan

Masyarakat kini tengah mengalami transformasi digital besar-besaran, di mana segala aspek kehidupan mulai dari bisnis, ekonomi, hiburan, transportasi, bahkan dalam proses kegiatan belajar mengajar akhirnya dilakukan secara daring. Kabar baiknya, penggunaan internet dari segala lini hidup ini merupakan inovasi, inklusifitas, dan menciptakan efisiensi.

Akan tetapi terdapat tantangan di segi etika dan norma kesopanan yaitu menipisnya kesatuan, kebebasan berekspresi yang melebihi batas, berkurangnya toleransi, dan hilangnya batas privasi. Padahal sebagai bangsa yang masyarakatnya multikultural dan berasakan pada Pancasila, segala interaksi di ruang digital pun tetap harus memiliki etika.

“Etika yang seharusnya bisa diaplikasikan di ruang digital dapat tercermin dari tiap sila di Pancasila,” kata Elfira Fitri Wahyono, Manager of External Student Affairs Universitas Multimedia Nusantara, saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat I,  pada Selasa (31/8/2021).

Seperti sila pertama yang mencerminkan adanya cinta kasih dengan menghormati agama dan ibadah orang lain yaitu tidak melakukan perundungan baik verbal dan nonverbal berdasarkan agama. Kemudian sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab mencerminkan kesetaraan yaitu tidak ada pembedaan atau diskriminasi dalam memperoleh informasi di ruang digital. Tidak melakukan penghinaan, perendahan, pengucilan, maupun perundungan terhadap kelompok tertentu.

Sila ketiga persatuan Indonesia yang mencerminkan harmoni, dengan kesadaran bangga menjadi warga negara Indonesia dan mencintai produk Indonesia. Termasuk bijak dalam menelaah informasi agar tidak terprovokasi ujaran kebencian dan perpecahan. Ketahui bedanya hoaks maupun ujaran kebencian biasanya konten dengan gambar, judul, isi tidak saling mendukung. Bahasanya satir, tidak ada niat merugikan tapi berpotensi menipu dan informasinya menyesatkan biasanya dipakai untuk membingkai isu atau orang tertentu.

Adapun sila keempat dan kelima Pancasila mencerminkan gotong royong sikap kekeluargaan, kerjasama, dan peduli sesama hal tersebut bisa diaplikasikan dengan kesadaran untuk memahami regulasi dan kebijakan tentang ramah digital. Menerapkan etika, perilaku yang baik. “Sebarkan konten positif, wujudkan cinta Tanah Air dan cinta produk Indonesia. Promosikan gaya hidup berkualitas, saling menghargai dan bertoleransi, ciptakan ruang diskusi yang sehat untuk menguatkan harmoni dan kebersamaan,” katanya lagi.

Lebih lanjut dia pun memberikan tips agar budaya kreatif dan produktif di ruang digital bisa diterapkan, seperti bijak dalam memilih platform digital sesuai usia, pahami dan kuasai platform digital agar terhindar dari konten negatif. Kemudian gunakan platform digital sewajarnya, jangan dampai kecanduan dan sebarkan konten-konten positif. Tak lupa dari segi keamanan digital perhatikan cara menjaga identitas pribadi, dan tanamkan rasa cinta kepada tanah air yang bisa disalurkan lewat menjaga budaya serta sikap yang sesuai norma Pancasila dan Bhineka Tungga Ika.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Geri Sugiran, CEO Ruhay Creative Studio, Devi Kunaepi, Kepala Sekolah SMK Pasim, dan Defira N, Ketua Relawan TIK Sukabumi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply