hitcounter
Thursday , August 5 2021

Teknologi Membentuk Budaya dan Seni

Pandemi berdampak ke semua bidang termasuk seni. Rio silaen, Founder Voice of Indonesia, pelatihan performing art ini juga sudah go digital dalam rangka bertahan saat pandemi.

Rio bercerita, bagaimana sebetulnya dia telat masuk digital. Bukan tidak mengenai dunia digital namun untuk membuat kelas musik atau pertunjukan belum terpikir baginya dilakukan secara digital.

“Mau tidak mau kita semua harus beradaptasi atau masuk ke dalam dunia digital. Awal pandemi semua aktivitas Voice of Indonesia berhenti total. Mungkin dari kebutuhan untuk survive dan berusaha untuk mencari jalan keluar kami beraktivitas berinteraksi dan bermigrasi ke ruang digital,” ungkapnya saat menjadi pembicara Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (21/6/2021).

Musik bermigrasi dari ruang diciptakan dari kehidupan nyata ke ruang digital, musik yang tadinya hanya bisa didengarkan lewat sebuah pertunjukan atau tayangan di televisi kini bisa diakses lewat berbagai platform digital platform. Begitu pula dengan cara pendidikan musik yang akhirnya ditransfer kepada murid dan juga penikmat musik pada umumnya.

Rio mengatakan, tanpa disadari teknologi itu sebenarnya telah membentuk budaya dan juga seni khususnya musik dalam perkembangannya. Sebab, teknologi itu dibuat berdasarkan perspektif pembuatnya jadi akhirnya tanpa disadari teknologi itu membentuk budaya.

“Budaya itu disebabkan oleh adanya algoritma. Algoritma ialah sebuah logika yang merekam semua aktivitas internet. Jadi, ketika kita sering melihat konten yang kita minati, baik melalui YouTube atau melalui media sosial. Suka atau tidak suka akhirnya yang sesuatu yang kita sering klik itu membuat algoritma menyediakan hal-hal yang hanya kita suka,” jelasnya.

Keterbatasan kita menonton atau menggali informasi akhirnya membuat literasi digital terbatas karena hanya belajar sesuatu yang diminati. Berbeda dengan dulu, ketika menonton televisi kita melihat suatu pertunjukan tidak dibatasi dengan sesuatu yang kita suka sehingga dapat belajar melihat sesuatu diluar yang kita suka.

Algoritma tadi akhirnya mau tidak mau membatasi informasi tertentu yang masuk kepada kita jadi sepertinya. Hal inilah yang kita sadari bahwa teknologi telah membentuk dan mengarahkan budaya atau lingkungan dan khususnya seni di dalam masyarakat.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital ini diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (21/6/2021) ini juga menghadirkan pembicara Matahari Timoer (Koordinator Literasi Digital ICT WATCH), Content Creator Rizky Ardy, dan Moch Ridwan (Ferianto TIK Kalimantan Barat).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply