hitcounter
Monday , September 20 2021

Sopan dan Beradab, Budaya Gotong Royong Indonesia Bisa Diterapkan di Ruang Digital

Waktu dan keadaan yang terus berubah menuntut setiap individu di dalamny ikut berubah juga. Apalagi dengan situasi dan kondisi saat ini yang menuntut kita untuk beradaptasi terhadap hal-hal baru. Menimbulkan banyak dinamika dan warna yang mengubah tatanan serta norma sosial budaya khususnya dalam aspek kesopanan dan keadaban.

“Kita tidak bisa memprediksi kapan pandemi berakhir, namun kita dapat memprediksi kapan hubungan kita dengan kolega bisa retak dan hancur jika kita lalai dan abai dalam menggunakan teknologi digital hari ini, karena itu kita harus meningkatkan kehati-hatian di dunia digital,” kata Abung Supama Wijaya, Dosen Program Studi Komunikasi Sekolah Vokasi IPB saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, Kamis (12/8/2021).

Berbagai fenomena di ruang digital saat ini menjadi daya tarik tersendiri, namun tetap harus ada tata kesopanan dan adab sebagai individu yang memanfaatkan teknologi untuk bertahan hidup, menikmati hidup, dan bahagia dalam kehidupan ini. Apalagi masyarakat Indonesia yang heterogen sejak dulu dikenal sebagai orang-orang yang ramah, sopan santun, murah senyum, tenggang rasa, gotong royong hal yang membuat masyarakatnya betah hidup di lingkungan saat ini.

“Nilai-nilai demokrasi untuk berpendapat sepertinya disalahgunakan oleh masyarakat kita yang masih awam tentang pentingny kecakapan digital di era ini,” ujarnya lagi.

Survei Microsoft yang dipublikasikan pada Februari 2021 menyebutkan masyarakat Indonesia sebagai netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Di antaranya faktor penyebab penilaiannya adalah hoax, penipuan, ujaran kebencian, diskriminasi hingga cyberbullying. Jika ditelaah lagi data tersebut, sebenarnya kebanyakan penyumbang terbesar hal-hal negatif dari penilaian survei tersebut didominasi kategori dewasa. Sedangkan untuk remaja generasi Gen Z dan Milenial menyumbang angka lebih sedikit mengenai penyebab buruknya angka penilaian.

“Bagi saya pribadi ada harapan yang besar sebenarnya, masih optimis dengan generasi remaja Gen Z bahwa Indonesia akan makin cakap digital di masa yang akan datang,” tuturnya lagi.

Dia pun makin optimis karena sebenarnya budaya gotong royong di Indonesia bisa diterapkan di ruang digital dan biaa menjadi hal positif. Seperti fakta bahwa dalam lima tahun terakhir perkembangan ekosistem donasi Indonesia semakin kuat dan positif. Hal tersebut bisa dilihat dari inovasi metode berdonasi dan pertumbuhan platform galang dana digital.

Bahkan dalam berbagai survei, salah satunya World Giving Index tahun 2018. Indonesia sempat mendapat predikat sebagai peringkat 1 negara paling dermawan. Pertumbuhan jumlah organisasi nirlaba selama 20 tahun juga mengalami peningkatan 254 kali dan 32% pengguna platform galang dana digital dilakukan oleh organisasi di Indonesia.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Daniel Hermansyah, CEO of Kopi Chuseyo, Shandy Susanto, Dosen di Podomoro University, dan Rino, Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply