hitcounter
Sunday , May 19 2024

Sering Saring Informasi, Cegah Penyebaran Berita Hoaks

Keterbukaan informasi dan digitalisasi akibat keberadaan internet dan media sosial seringkali dimanfaatkan oleh segelintir oknum untuk menyebarkan hoaks.
Hoaks atau berita bohong sebagai informasi yang sesungguhnya tidak benar namun dibuat seolah-olah benar, dengan tujuan membuat masyarakat tidak aman, nyaman, resah dan kebingungan tentu sangat merugikan.

Riri Damayanti, seorang Content Creator dan Yoga Enthusiast mengatakan, hoaks memiliki banyak jenisnya seperti satire atau parodi yang mulanya dibuat tidak untuk merugikan namun ternyata berpotensi mengelabui. Selain itu ada konten yang menyesatkan atau misleading. “Konten ini memanfaatkan informasi asli namun sebenarnya tidak ada hubungan dengan informasi aslinya,” kata Riri saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat I, pada Rabu (10/11/2021).

Jenis hoaks lainnya antara lain bentuknya berupa konten tiruan yaitu mengambil sumber asli namun diubah lagi sesuai keinginan penyebar hoaks. Lalu ada konten palsu yang merupakan konten baru yang sepenuhnya salah sengaja untuk menipu, serta koneksi yang salah antara judul dan isi berita tidak nyambung.

Lebih lanjut dia pun memberikan tips agar masyarakat bisa ikut berkontribusi mencegah penyebaran hoaks. Seperti berhati-hati dengan judul berita yang provokatif terkesan bombastis, akan lebih baik cek terlebih dulu daripada klarifikasi di kemudian hari. Kemudian untuk memudahkan pengenalan hoaks, cermati alamat situs misalnya untuk situs pemerintah, sekolah, dan instansi tertentu. Jangan lupa untuk mengecek fakta dengan sumber pembanding lainnya, cek keaslian video dan foto, serta ikut grup diskusi anti hoaks.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Sandy Natalia, Co-Founder of Beauty Cabin, Irma Nawangwulan, Dosen di IULI, Rino, dari Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma, dan Seno Soebekti, Pembina Olimpiade Sains Nasional Bidang Matematika.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Samsung Resmikan Kampanye Olimpiade dan Paralimpiade Paris 2024

Paris, Vakansi – Dengan waktu kurang dari 100 hari lagi menuju Paris 2024, Samsung Electronics …

Leave a Reply