hitcounter
Friday , September 17 2021

Selalu Pamerkan Kecintaan pada Produk Indonesia di Ruang Digital

Budaya pamer kini merasuki masyarakat Indonesia di ruang digital, media sosial dianggap sebagai tempat untuk menunjukan materi. Perilaku konsumsi sebaiknya memperlihatkan empati dan membeli secukupnya tidak impulsif membeli karena kebutuhan.

Santi Indra Astuti, dosen Universitas Islam Bandung yang juga anggota Jaringan Penggiat Literasi Digital (Japelidi) mengatakan, sebaiknya budaya pamer itu tidak terlalu berlebihan, bukan karena iri tapi perbuatan itu tidak menunjukan empati dan kepedulian. Ciptakan ruang digital dari perilaku suka pamer dan hal lain yang tidak menunjukan produktivitas lebih baik berkolaborasi untuk menyebarkan semangat digital entrepreneurship dan mengangkat dan membela produk Indonesia.

“Menonjolkan produk Indonesia ini sesuai dengan nilai dari sila ketiga dari Pancasila. Tidak semua dapat menjadi produsen ada juga yang hanya menjadi pendukung. Pihak yang dapat bisa memberi ruang fasilitasi ialah para ASN atau teman-teman yang punya organisasi yang dapat membuat pasar murah, ujar Santi di webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/8/2021) siang.

Mengenai cinta produk Indonesia, menurutnya ada dua yang harus ada. Mendukung produksi Indonesia atau kita menjadi konsumen bijak yang nasionalis. Keduanya sangat mungkin dilakukan karena kita tahu bahwa internet itu menjadi penyokong penyelamat UMKM dari krisis.

Kita lihat bahwa di satu sisi brand-brand internasional itu itu terpukul tapi di sisi lain potensi dari ekonomi lokal itu juga tinggi, maka sebetulnya banyak peluang. Dibutuhkan kesadaran untuk mengamalkan sila kedua dan ketiga untuk memajukan UMKM untuk ekonomi bangsa.

Jadilah citizen journalism yang mendukung produk Indonesia lewat dokumentasi dan mempromosikan juga memberi ulasan yang baik. Mem-posting foto atau video di media sosial sehingga dapat turut membantu mempromosikan para UMKM.

“Budaya Pancasila menjadi landasan pergerakan ekonomi di dunia digital selain pengamalan sila ketiga yang bermakna mengutamakan kepentingan Indonesia di atas golongan dan lainnya. Ini juga dapat diartikan sebagai cinta produk Indonesia dan mengutamakan menggunakan produk Indonesia,” tuturnya.

Sila kedua juga bersinggungan dengan adanya upaya untuk mewujudkan kesetaraan produk lokal adalah pesan dari sila kemanusiaan yang adil dan beradab yang kadang-kadang kita lupakan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/8/2021) siang, juga menghadirkan pembicara Aaron Daniel (Kreator Konten), Muhammad Agreinda (LPPM STIMIK Bandung), Aidil Wicaksono (entrepreneur, podcaster), dan Clarissa Darwin sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Bersatu Menjaga Dunia Digital Tetap Aman

Ruang digital sebagai tempat tinggal baru masyarakat zaman sekarang. Dunia yang tanpa batas sekalipun teritori …

Leave a Reply