hitcounter
Sunday , November 28 2021

Prinsip Etika di Dunia Digital, Sadar Keberadaan Manusia Lain

Dengan jumlah pengguna internet yang kian meningkat, berbagai karakter orang, pendidikan dan tingkat lapisan sosial budaya berbeda membuat perbedaan pendapat bisa terjadi di ruang digital. Konflik, maupun pergesekan bisa terjadi sehingga setiap pengguna perlu memiliki kesadaran diri sebagai prinsip berperilaku baik di dunia digital.

Chika Amalia, seorang Public Figure Branding & Partnership mengatakan untuk menyempatkan waktu berpikir sebelum berinterkasi dan berpartisipasi di dunia digital. Namun sebelum itu menurut dia sebagai pengguna media sosial setiap orang bisa menyaring terlebih dulu apa yang ingin dilihat.

“Karena ktivitas di dunia digital sebenarnya bisa dikontrol, mulai dari siapa yang diikuti di media sosial, berteman dengan siapa, siapa saja yang bisa melihat akun pribadi kita,” ujarnya saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I pada Selasa (26/10/2021).

Kemampuan menyaring apa yang akan dibagikan ke pengguna lainnya juga termasuk. Sebagai pengguna, setiap orang juga bisa memanfaatkan fitur di media sosial yang bisa digunakan seperti follow, mute, hide account, yang sebenarnya bisa memfilter segala hal negatif.

“Analisa terlebih dulu sebelum merespons sesuatu, apalagi berita hoaks yang tidak boleh disebarkan karena akan memicu kegaduhan,” katanya lagi.

Lebih lanjut dia pun mengatakan, ada beberapa etika di dunia digital seperti saat menggunakan konten milik orang lain. Jangan sampai memakai foto tanpa izin, apalagi untuk kepentingan komersil karena akan bersentuhan dengan Hak Kekayaan Intelektual. Selain itu dia mengingatkan, agar di ruang digital setiap orang fokus menyebarkan hal-hal positif.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Sandi Natalia, Co-Founder of Beauty Cabin, Pipit Djatma, Fundraiser Consultant, Psychososial Actvist IBU Foundation, Benny Daniawan, Dosen Sistem Informasi Universitas Buddhi Dharma, dan Janna Soekasah, Creative Director Ghea Resort.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply