hitcounter
Thursday , August 5 2021

Potret Etika dan Budaya Digital Netizen Indonesia Memperihatinkan

Selama tiga dekade lebih telah terjadi konvergensi media media berjaring dan teknologi informasi yang menciptakan mode baru komunikasi. Kini telah telah terbentuk ekologi media yang menghadirkan permasalahan kompleks privacy dan keamanan, kebebasan dan kontrol serta dampak lainnya.

“Konsep utama dari media baru saat ini adalah multimedia artinya bisa mengupload konten gambar, foto, video, lalu grafis. Selain itu ada sifat interaktif, jika media lama hanya dua dimensi atau dua arah sekarng bisa jadi multiarah. Di samping itu ada konsep otomatisasi yang penting pada media baru dan ada sifat memudahkan sehingga semua terasa serba ringan namun tetap berbeda dari sifat instant,” ujar Yusep Rafiqi, Ketua Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Siliwangi, Tasikmalaya saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat I, Kamis (8/7/2021).

Adapun potret yang terjadi saat ini berkaitan dengan budaya digital di Indonesia cukup mengejutkan, bahwa digital netizen dewasa kurang dalam penerapan budaya dan etika bertambah jumlahnya sekitar 16%, namun untuk netizen milenial justru cenderung lebih masa bodoh. Keadaban netizen Indonesia dari survei Digital Civility Index menempati urutan ke-29 dengan skor 76.

“Potret yang terjadi milenial itu mudah terpapar radikalisme, karena situs organisasi islam moderat, karena milenial cenderung ingin mencoba sesuatu yang baru ya, apalagi isinya membakar semangat,” kata Yusep.

Hal ini menurut Yusep ditenggarai juga Indonesia sebagai mayoritas Islam sehingga ada isu radikalime namun sebenarnya di Myanmar pun juga ada isu serupa dari agama Budha untuk penghapusan satu etnis. Organisasi berbasis agama, kata Yusep dimungkinkan memang cenderung membakar semangat milenial, dengan tujuan radikalisme sehingga patut diwaspadai. Hoaks dan ujaran kebencian serta radikalisme di dalam bentuk media baru yang beredar lewat internet di era yang serba digital ini perlu difilter oleh masing-masing individu.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Daniel Hermansyah, CEO Kopi Chuseyo, Santi Astuti, dari Universitas Islam Bandung, dan Fika Astridianingrum Psikolog/Konselor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital, untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply