hitcounter
Monday , September 20 2021

Potensi Jeratan Pidana UU ITE karena Menyebarkan Hoaks

Istilah hoax mulai dipergunakan sekitar tahun 1808, hoax berasal dari kata hocus yang berarti mengelabui. Hocus sendiri adalah penyingkatan dari hocus pocus, semacam mantra dari aksi pesulap di atas panggung. Dalam bahasa Indonesia hoax kemudian ditulis sebagai hoaks.

Di era digital seperti sekarang ini, masyarakat harus mampu menggunakan internet dengan penuh tanggung jawab. Serta mengetahui dampak yang bisa ditimbulkan dari sekadar mengunggah maupun mengomentari sesuatu di ranah digital. Indonesia merupakan 20 besar negara pengguna internet terbanyak di dunia, mengalahkan Brazil dan Jepang. Fakta ini seharusnya membuat Indonesia dianggap melek digital, akan tetapi jumlah pengguna internet di Indonesia berbanding terbalik dengan pemahaman literasi digitalnya yang justru masih rendah.

“Teknologi dan internet menjadi alat penting yang kemudahan akses, sayangnya kemampuan penggunanya untuk menyaring informasi dengan baik dan benar,” kata Syarief Ramaputra, Fact Checker dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, Kamis (5/8/2021).

Literasi digital yang masih jauh terbelakang membuat Indonesia rawan dengan berita hoaks atau berita palsu. Mengenai hoaks, masyarakat perlu mengenali ciri-cirinya. Di antaranya hoaks muncul dengan judul bombastis, alamat website tidak jelas, tidak mencantumkan nama penulis dan alamat redaksi, narasinya provokatif, memanipulasi foto dan keterangan gambar, serta meminta dishare atau diviralkan.

Dampak berita hoaks sendiri akan sangat merugikan. Bisa menimbulkan perpecahan, memicu ketakutan, menurunkan reputasi, membingungkan, membuat fakta jadi sulit dipercaya, hingga bisa menimbulkan korban jiwa. Oleh karena bahaya hoaks, untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat dan positif masyarakat sangat perlu untuk sering saring berita palsu dengan mengecek ulang sumbernya dan bila tidak yakin kebenarannya berhenti dengan tidak menyebarkannya.

Apalagi sekarang ini terkait informasi digital sudah diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE ) di mana pelakunya bisa ditindak hukuman pidana.

Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, kali ini menghadirkan pula nara sumber lainnya seperti Daniel Hermansyah, CEO of Kopi Chiseyo, Aditya Nova Putra, Ketua Jurusan Hotel & Pariwisata IULI, dan Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply