hitcounter
Monday , September 20 2021

Perubahan Konvergensi Media dan Potret Etika Budaya Digital Netizen Indonesia Memperihatinkan

Dalam kurun waktu tiga dekade lebih telah terjadi konvergensi media berjaring dan teknologi informasi yang menciptakan mode baru komunikasi. Sekarang ini telah terbentuk ekologi media yang menghadirkan permasalahan kompleks seperti privacy dan keamanan, kebebasan dan kontrol serta dampak lainnya.

Konsep utama dari media baru saat ini adalah multimedia artinya secara sekaligus bisa mengupload konten gambar, foto, video, lalu grafis. Di samping itu media baru juga memiliki sifat interaktif, jika media lama hanya dua dimensi atau dua arah sekarang bisa jadi multiarah.

“Di samping itu ada konsep otomatisasi yang penting pada media baru dan ada sifat memudahkan sehingga semua terasa serba ringan namun tetap berbeda dari sifat instant,” kata Yusep Rafiqi, Ketua Program Studi Ekonomi Syariah Universitas Siliwangi, Tasikmalaya saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I, Selasa (3/8/2021).

Potret yang terjadi sekarang ini berkaitan dengan budaya digital di Indonesia cukup memprihatinkan, digital netizen dewasa kurang dalam penerapan budaya dan etika semakin bertambah jumlahnya namun untuk netizen milenial justru cenderung lebih masa bodoh. Keadaban atau kesopanan netizen Indonesia dari survei Digital Civility Index pun menempati urutan ke-29 dengan skor 76.

“Potret yang terjadi milenial itu mudah terpapar radikalisme, karena situs organisasi islam moderat, karena milenial cenderung ingin mencoba sesuatu yang baru ya, apalagi isinya membakar semangat,” tutur Yusep.

Hal ini menurut Yusep ditenggarai juga Indonesia sebagai mayoritas Islam sehingga ada isu radikalime namun sebenarnya di Myanmar pun juga ada isu serupa dari agama Budha untuk penghapusan satu etnis. Organisasi berbasis agama, kata Yusep dimungkinkan memang cenderung membakar semangat milenial, dengan tujuan radikalisme sehingga patut diwaspadai. Hoaks dan ujaran kebencian serta radikalisme di dalam bentuk media baru yang beredar lewat internet di era yang serba digital ini perlu difilter oleh masing-masing individu.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Monica Eveline, Digital Strategic Diana Bakery, Nikita Dompas, Producer & Music Director, dan Diena Haryana, Founder SEJIWA.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply