hitcounter
Monday , September 20 2021

Perubahan Kehidupan Ibu di Era Digital

Sebuah perubahan tidak terjadi tiba-tiba ada yang memulai, kemudian menyebar dan menjadi sebuah budaya. Transformasi digital sudah masuk ke dalam lingkup rumah masing-masing. Kita lihat saja dari alat-alat di dapur maupun alat-alat rumah tangga sudah ada beberapa orang yang sudah menggunakan robot. Misalkan sapu dan digital, dia tidak perlu di-setting lagi secara manual tapi secara otomatis sudah bisa membersihkan di waktu-waktu tertentu yang memang sudah dijadwalkan. Bukan hanya alat-alatnya saja, kehidupan seorang ibu pun berubah.

Litani Wattimena, Brand Communication Strategist menyebut 1.0 ibu rumah tangga. Seorang istri dan ibu yang bekerja di rumah melayani suami, mengurus anak dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga. Fase ibu 2.0 ibu bekerja di luar rumah. Mereka juga ingin mengaktualisasikan diri mereka di luar rumah dengan cara bekerja, bukan hanya itu ibu bekerja juga ingin membantu perekonomian keluarga.

Memasuki ibu 3,0, ibu bekerja di rumah. Inilah fase sekarang ibu bekerja namun masih tetap berada di rumah. Mereka bisa bekerja kantoran namun dapat dikerjakan pekerjaannya di manapun atau secara remote.

“Para ibu ini menjadi entrepreneur bekerja menghasilkan uang tapi masih di rumah saja masih bisa mengurus anak-anak. Mungkin mereka berjualan online, memiliki toko online seperti saya sekarang. Bisa juga ibu yang memiliki pekerjaan freelance seperti penulis atau designer grafis atau apapun yang memang bisa dikerjakan di mana saja,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021).

Para ibu-ibu seperti ini sudah menyiapkan anak-anak mereka sebelum memulai bekerja walaupun kerjanya masih di samping anak-anak mereka. Ibu 2.0 juga sama sebelum berangkat ke kantor sudah menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak.

Budaya yang akhirnya bergeser karena sudah ada satu orang yang melakukan lalu merembet ke banyak orang. Littani menanyakan, mungkinkah pada zaman 1.0 itu seorang ibu bekerja namun masih tetap di rumah. Jawabannya belum tentu mereka tidak bisa tapi belum ada belum ada pekerjaan yang dapat dilakukan hanya di rumah. Berbeda dengan sekarang menggunakan teknologi siapapun dapat bekerja dari rumah termasuk seorang ibu.

Sektor apa saja yang sudah bertransformasi yaitu sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi dan komunikasi dan sosial budaya.

“Dulu kita berpikir harus bertemu secara langsung, bertatap muka selalu, sekarang bisa bertemu bahkan lebih banyak sampai ujung Indonesia. Dulu disebutnya kopi darat tapi sekarang kita sebutnya kopi udara jadi bertemu melalui udara,” ujarnya.

Sektor pemerintahan juga seperti itu, mengurus izin sekarang melalui online begitu juga dengan perpanjangan STNK dan laporan pajak. Urusan keagamaan pun demikian, semua berdakwah melalui media sosial lebih mencari anak muda atau berkhotbah melalui streaming di gereja-gereja yang bisa diikuti dari mana saja. Litani mengatakan, dari semua sektor ini tidak ada yang baru semua serba lama, sebelum ada digital berkembang, sektor-sektor ini sudah ada hanya yang berubah adalah budaya digital atau cara baru kita dalam menjalankan budaya sehari-hari ke dalam bentuk digital.

Kita menjalankan kebudayaan kita dalam bentuk digital, jadi bukan budaya baru. Apakah kita siap dengan dunia yang bertransformasi? Jawab Litani, kita sudah siap apabila memahami empat pilar literasi digital, ketika kita sudah memahami empat pilar literasi digital yakni kecakapan digital, Budaya digital, etika digital dan keamanan digital.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021) juga menghadirkan pembicara Geri Sugiran (RTIK Sukabumi) Eris Rustandi (Pengajar), Gunawan Kamri (PT. Kuliner Anak Indonesia), dan Arwina pradini sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply