hitcounter
Thursday , August 5 2021

Peran Orang Tua dalam Literasi Digital untuk Anak

Sebanyak 98% anak sudah mengenal internet dan 79,5% sudah menjadi pengguna internet. Orang tua anak-anak zaman sekarang ini disebut digital immigrant atau yang masih beradaptasi dan belajar mengenai digital. Berbeda dengan anak-anaknya yang sudah menjadi digital native. Mereka sudah dari kecil atau malah dalam kandungan sudah dikenali gawai dan internet.

Maka, apa yang harus dilakukan digital immigrant ini menghadapi anak-anak dunia digital ini. Muhamad Ridwan Praktisi Digital Parenting yang juga Relawan TIK Indonesia berbagi saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (1/6/2021)

Orang tua harus melakukan kerjasama yang baik dalam mendidik anak. Berbagi peran dengan kesepatakan bersama jadi jangan hanya diberikan kepada ibu karena ayah sibuk bekerja.

“Harus ada peran yang sama walaupun berbeda dari sisi waktu. Sudah jelas waktu dengan ibu akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan ayah. Tapi peran itu tetap harus diambil meskipun kuantitasnya sedikit,” ujarnya

Jaga komunikasi dengan anak, sesekali orang tua main bersama game di gawai yang sering anak main. Orang tua sekaligus mengecek adakah konten kekerasan di dalam game. Kesempatan ini dapat digunkan untuk dapat memberi pemahaman mana hal yang boleh dilihat dan dicontoh di internet mana yang tidak. Bangun komunikasi yang baik dengan anak. Orang tua harus tertarik mendengar cerita anak, mendengar cerita keseharian mereka dan tentu apa yang mereka rasakan.

Sebagai digital immigrant orang tua jangan berhenti belajar. Terus cari tahu dan terus belajar mencari tahu mengenai dunia digital, aplikasi yang anak sering akses. Untuk anak 13 ke atas saat sudah diizinkan memiliki akun media sosial.

“Jangan harap orangtua dapat mengawasi, menemani dan melindungi anak di dunia digital tetapi tidak mau belajar dan terus-terusan gagap teknologi,” tegas Ridwan.

Mengenai kepemilikan gawai, orang tua dapat meminjamkan sesuai kebutuhan. Saat pembelajaran jarak jauh seperti sekarang berikan gawai hanya di saat waktu belajar. Setelahnya gawai milik orang tua yang dipinjamkan dapat dikembalikan.

Jika perlu buat kesepakatan dengan anak terkait penggunaan gawai. Sebaiknya tidak memberikan gawai secara khusus untuk mereka. Jika memang orang tua secara khusus membeli gawai untuk kemudahan belajar online. Tetap komunikasikan pada anak bahwa gawai ini milik orang tua, sehingga dia hanya meminjam. Buat kesepakatan berapa lama waktu peminjaman dan akan digunakan untuk apa saja.

Ajak anak berinteraksi di dunia nyata di tengah kesibukan dunia digital. Bersepeda atau sekedar jalan pagi di sekitar rumah. Menyehatkan badan juga dapat menciptakan komunikasi dengan anak.

Pilihkan juga aplikasi yang positif untuk anak. Jangan malas untuk membaca keterangan, game atau aplikasi sesuai game, di Playstore juga ada keterangan.

Terakhir, aktifkan parental control, dalam beberapa aplikasi parental control gawai mereka dapat terhubung dengan mereka sehingga kita tahu apa saja yang diakses oleh anak dan berapa lama. Bisa juga orangtua yang mengatur dengan apliaksi tertentu.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kamis (1/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Bambang Iman Santoso (CEO Neuronesia Learning Center), Khemal Andreas (CEO NXG Indonesia), Ari Budi Wibowo (Kepala Bidang Kemitraan Siberkreasi), dan Rio Silaen sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply