hitcounter
Wednesday , October 20 2021

Peran Komunitas Akademik dalam Pendidikan di Era Digital

Teknologi komunikasi telah memasuki dunia pendidikan. Menurut  Seno Soebekti, Pembina Olimpiade Sains Nasional Bidang Matematika kehadiran teknologi tersebut memudahkan kegiatan pendidikan mulai dari absensi hingga kegiatan belajar mengajar.

Namun, Indonesia sebagai negara kepulauan masih memiliki kekurangan dalam akses pendidikan secara merata, terutama di era pandemi. Dengan itu kita butuh peran dalam komunitas akademik sebagai sebuah kelompok di mana adanya interaksi untuk mencapai tujuan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Seno mengatakan, komunitas akademik bisa dibagi berdasarkan institusi, bidang, penelitian, dan profesi. Semuanya memiliki peran dan caranya sendiri dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Di masa pandemi ini terdapat keterbataasan penguasaan teknologi oleh siswa, terbatasnya sarana dan prasarana, akses internet yang terbatas, dan kurangnya penyediaan anggaran,” tutur Seno dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/9/2021).

Menurutnya, masalah-masalah tersebut bisa dipecahkan karena adanya revolusi industri 4.0. Cara mengatasinya kita perlu kreativitas, berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi. Untuk itu solusi yang bisa dilakukan, akademisi perlu berpikir positif terhadap siapapun dan tidak boleh merendahkan kemampuan tiap peserta didik, mengajak rekan akademisi untuk membantu sesama, menggunakan metode pembelajaran yang menarik, mengundang narasumber yang memotivasi siswa, dan menyebarluaskan aplikasi dan penggunaannya yang berguna bagi pendidikan seperti Zoom, Google Meet, dan Microsoft Team.

Evaluasi dari berbagai pihak, seperti sekolah, dinas pendidikan, atau pihak kementerian penting untuk dilakukan agar bisa mencari solusi atas permasalahan di ruang pendidikan.

Di samping peran akademisi, siswa juga bisa saling mendukung satu sama lain dengan melakukan tutor sebaya, membuat video animasi bersama, atau membuat modul digital. Modul-modul ini sangat mudah didapatkan di era digital dan dapat mendukung proses pembelajaran.

“Dalam belajar online juga tidak berbeda dengan belajar biasanya. Ajarkan siswa untuk mengikuti aturan selama kegiatan pembelajaran online, membatasi kegiatan online agar tidak terlalu lama sesuai dengan tingkatannya, dan memakai bahasa yang baik dan benar dalam setiap kegiatan,” jelas Seno.

Seno menyarankan, akademisi bisa memanfaatkan platform-platform dalam belajar online melalui situs PSB Kids, Sesame Street, CoolMath, Make Me Genius, How Stuff Works, Discovery Kids, Nick Junior, atau Fun Brain.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (7/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Andry Hamifa (Head of Creative Visual Brand Hello Monday Morning), Irma Nawangwulan (Dosen International University Liason Indonesia), Ana Agustin (Managing Patner di Indonesia Global Lawfirm), dan Manda Utoyo (KOL).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Melihat Peluang Berjualan di Marketplace

Geliat UMKM di Indonesia dengan datangnya pandemi Covid-19 untuk masuk ke marketplace meningkat. Sebanyak 15,3juta …

Leave a Reply