hitcounter
Thursday , August 5 2021

Penuhi Konten Positif Agar Bersaing dengan Informasi Negatif yang  Merusak Persatuan

Rangkaian Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siber Kreasi bersama Dyandra Promosindo kembali menggelar kegiatan diskusi virtual pada Jumat, 2 Juli 2021. Kolaborasi ketiga lembaga tersebut dikhususkan pada penyelenggaraan Literasi Digital di wilayah Sulawesi.  Pada kegiatan kali ini diikuti oleh 692 peserta dari berbagai kalangan.

Dalam webinar yang digelar di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, ini membahas materi tentang Dakwah yang Ramah di Internet. Adapun narasumber seminar adalah Savic Ali selaku Direktur Nahdlatul Ulama (NU) Online dan Islami.co, Gusstiawan Raimanu S.E MM selaku Dosen di Fakultas Ekonomi dan Kepala Pusat Laboratorium Komputer Universitas Sintuwu Maroso, Sartika Andi Patau S.Pd M.Pd selaku Ketua LP4D Universitas Sintuwu Maroso, dan Ririn Afitri Tatu S.Psi selaku Founder Yayasan Gorontalo Baik Indonesia. Sedangkan moderator acara dibawakan oleh Richard Lioe dari Katadata.

Pemateri pertama Savic Ali memaparkan tentang keahlian digital dengan tema “Pemanfaatan Internet untuk Menyebarkan Konten Positif bagi Pemuka Agama”. Fenomena belakangan ini sudah banyak bermunculan orang membawakan dalil agama di media sosial dengan maksud untuk membenci, memprovokasi, atau menyerang seseorang dan kelompok lain. “Karena itu, NU Online berupaya hadir dengan  memperluas isu-isu tulisan ke tema-tema yang relevan untuk umat Islam saat ini, bukan hanya informasi yang khas NU. Saya pun dan teman-teman juga membuat Islami.co yang targetnya untuk warga Muslim urban,” jelasnya.

Sosial media juga telah menjadi medan pertempuran berbagai gagasan, kepentingan, propaganda, termasuk dakwah Islam. Sehingga, para kyai dan santri punya kewajiban untuk memanfaatkan media sosial agar dapat mengisi konten-konten yang membawa semangat Pancasila, persatuan Indonesia, dan unsur kebhinekaan.

Kemudian, tampil pemateri kedua Ririn Afitri Tatu yang memaparkan tentang digital ethic dengan tema “Bijak di Kolom Komentar”. Berdasarkan riset Microsoft menunjukkan tingkat kesopanan warganet asal Tanah Air berada di urutan ke-29 dari 32 negara. Contoh sikap buruk harus dihindari dalam berkomentar misalnya cyber bullying alias perundungan terhadap pengguna internet lainnya.

Sejatinya dampak perundungan sangat fatal mempengaruhi kehidupan dan masa depan orang lain. Antara lain, korban intimidasi akan selalu menghindar dari pergaulan, berupaya balas dendam dengan menjadikan dirinya sebagai pelaku perundungan, melukai atau menyiksa diri sendiri, serta mengembangkan gaya hidup yang tidak sesuai dari realita. “Untuk mencegah perundungan kita harus hati-hati dalam berkomunikasi, bahkan unfollow orang-orang yang berperilaku kasar,” kata Ririn.

Gusstiawan Raimanu juga hadir memaparkan materi ketiga tentang kultur digital dengan tema “Literasi dalam Berdakwah di Dunia Digital”. Ia menjelaskan, ada tiga hal dasar dalam berdakwah di internet yaitu, produksi, distribusi, dan interaksi. Adapun kiat agar bisa eksis dalam mengisi siraman rohani dimulai dengan membuat akun resmi, kemudian simpanlah setiap materi secara apik untuk menghindari risiko peretasan data dan virus, serta buatlah tim yang terdiri dari penceramah dan anggota teknis.

Narasumber terakhir, Sartika Andi Patau, membawakan paparan tentang keamanan digital bertajuk “Tips Pentingnya Internet Sehat”. Menurut dia, semua orang berkewajiban mengisi media sosial dengan konten-konten positif seperti video tutorial, edukasi, ataupun ulasan produk tertentu, sehingga bisa bersaing dengan maraknya konten negatif. “Informasi yang negatif seperti pornografi dan perjudian ini menjadi ancaman bagi generasi selanjutnya karena sangat mudah untuk mereka akses,” ujarnya.

Seminar virtual di Banggai Kepulauan episode dua ini tampaknya cukup menarik, dan mengundang pertanyaan dari para peserta. Salah satunya disampaikan oleh Nugroho yang bertanya bagaimana peran negara dalam menyeleksi konten negatif di internet. Menurut Sartika Andi, efektivitas penyeleksian informasi sejatinya berada di pribadi warganet agar bisa menjauhi muatan-muatan yang berpotensi memecah belah persatuan Indonesia. Panitia seminar virtual menyediakan 10 voucher dengan nilai masing-masing Rp100.000 yang akan diberikan kepada 10 penanya terbaik.

Kegiatan Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif dari para narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply