hitcounter
Wednesday , May 18 2022

Pengetahuan Dasar Berinteraksi di Dalam Ruang Digital

Apa alasannya para pengguna digital ini harus belajar etika dalam ruang-ruang digital. Sebenarnya sama dengan mengapa kita beretika di dunia nyata. Di kehidupan sehari-hari, karena kita masyarakat Indonesia dengan berbagai macam budaya dibutuhkan etika untuk saling menghargai. Bagaimana budaya yang miliki oleh satu suku bangsa dapat juga dihargai oleh suku bangsa yang lain. Begitu juga di ruang digital bahkan kita berinteraksi bukan hanya dengan masyarakat di dalam Indonesia tetapi juga di luar Indonesia.

Willyam Septyanto, Digital Talent Kominfo 2021 menjelaskan, budaya berbeda jangan sampai kita membenturkan kebiasaan kita dengan kebiasaan orang lain. Selain itu adanya perbedaan umur dan generasi juga di ruang digital.

“Pengguna Internet berasal dari beragam usia sehingga sudah sepantasnya bagaimana kita bertutur untuk menghargai mereka yang lebih tua. Berbeda pola pikir juga menjadi alasan sehingga dibutuhkan hati yang lapang untuk bisa menerima pendapat orang lain yang berbeda dengan kita. Tidak ada yang masalah dengan dengan perbedaan, apalagi dalam urusan pola pikir sebab setiap orang memiliki pendapat yang masing-masing,” jelasnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (14/10/2021) siang.

Jadi apa yang harus para warganet ini lakukan di dunia digital. Pertama berpartisipasi aktif partisipasi, yakni proses terlibat aktif dalam berbagi data dan informasi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Berperan aktif dalam membagikan informasi positif melalui media sosial yang kita miliki.

Gunakan kreativitas kita untuk memproduksi konten yang bermanfaat dan tidak merugikan orang lain dan diri kita. Jangan pernah mendistribusikan konten negatif seperti pornografi, ujaran kebencian, provokasi dan lainnya yang dapat mengganggu orang lain juga memberi dampak negatif.

Warganet juga harus berinteraksi membangun jaringan interaksi adalah sebuah kebutuhan bagi kita dengan adanya perkembangan teknologi informasi.

“Maka kini interaksi dapat dilakukan tidak hanya dengan bertatap muka secara langsung tetapi juga melalui komputer atau perangkat sejenis bernama internet. Namun dalam berjejaring ini harus ada etika dalam berinteraksi komunikasi, menjaga privasi orang lain, bijak dalam menyebarluaskan informasi, menyebutkan sumber jika kita membagikan karya milik orang lain dan lainnya,” ungkapnya.

Berkolaborasi bukan berkompetisi bagaimana proses kerjasama antar pengguna untuk memecahkan masalah bersama. Kompetensi ini mengajak peserta untuk berinisiatif dan mendistribusikan informasi yang jujur akurat dan etis dengan bekerjasama dengan kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Willyam menegaskan saat ini masuk eranya kolaborasi bukan berkompetisi karena salah satu cara agar kita tidak kalah berkompetisi adalah berkolaborasi dengan kompetitor kita. Kolaborasi ini tujuannya agar semakin banyak konten positif di ruang digital yang mengubur konten negatif. Tidak memberi dampak negatif bagi pengguna digital terutama mereka generasi muda.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (14/10/2021) siang, juga menghadirkan pembicara, Febryanti Kristiani (Founder @vitaminmonster), Richard Paulana (COO TMP Event), Shanti Kusmiati (Staff Administrasi Rencana Pembangunan Pusat Data dan Sistem Pariwisata Kemenparekraf RI), dan Lady Kjaernett sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Pembayaran contactless raih momentum di Indonesia

Visa, pemimpin dunia dalam pembayaran digital, hari ini mengungkapkan pembayaran contactless semakin populer di Indonesia, …

Leave a Reply