hitcounter
Sunday , September 19 2021

Pelaku atau Penonton di Ruang Digital, Manakah yang Cuan?

Sebanyak 2,7 miliar pekerja di seluruh dunia terdampak pandemi Covid-19, sektor yang paling berdampak itu seperti perhotelan, restoran, dagangan grosir dan ritel. Namun jika kita melihat kembali masih banyak industri yang bertubuh besar justru pada saat pandemi. Ini yang dapat dimanfaatkan sebagai lapangan pekerjaan yang dapat di manfaatkan oleh mereka yang terdampak oleh pandemi.

Industri itu adalah e-commerce, logistik, food delivery, telemedicine dan home fitness. Menurut Jobstreet, 66 persen peningkatan kebutuhan profesi bidang digital, karena semua sektor usaha memanfaatkan digital untuk promosi, komunikasi dengan kosnumen dan lainnya. Teknologi informasi juga digunakan industri untuk memudahkan pekerjaan mereka, sehingga mereka yang ahli dibidang digital amat sangat dibutuhkan.

Ketika dunia berubah segala sesuatu harus ikut berubah, tidak bisa kita berdiam saja. Seseorang dapat menambah skill di bidang digital untuk masuk ke dalam peluang profesi di bidang digital itu. Pebisnis Online Febryanto Mega kristiani, pemilik @vitaminmonster mengatakan, bekerja di bidang digital tidak ada batas ruang dan waktu karena setiap orang yang kreatif memiliki ruang sendiri untuk untuk mengaktualisasikan dirinya.

Maka menjadi pilihan seseorang, apakah hanya ingin menjadi penonton atau menjadi pelaku. Jika melihat media sosial kita, apakah kita hanya sering menjadi penonton para kreator menyaksikan saja, mengkonsumsi konten mereka. Sementara mereka yang mendapatkan keuntungan. Atau sebagai pelaku yang membuat kreasi konten-konten yang bagus dan menghasilkan.

Content Creator sebagai sekarang sebagai profesi yang cukup menjanjikan dan sudah seperti profesional. Diceritakan Febry sebagai bisnis owner yang terkadang menggunakan jasa Content Creator itu sudah profesional tidak bisa langsung meminta. Mereka sudah memiliki manajer dan tim kerja sendiri. Para pemilik bisnis membutuhkan mereka untuk mengiklankan produk.

“Salah satu selebgram terkenal dengan inisial R, bayarannya adalah Rp 12 juta untuk lima belas detik video di Instastory. Bayangkan berapa banyak waktu yang kita lakukan untuk melihat Instagram setiap harinya kalau kita yang suka melihat instastory orang lima belas detik, kita tidak mendapatkan apa-apa sementara lima belas detik mereka sudah mendapatkan uang jutaan rupiah,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021) pagi.

Peluang di dunia online juga memiliki bisnis online, seperti Febry usaha di bidang minuman jus kesehatan. Dia mengaku tidak memiliki toko offline hanya mengandalkan platform media sosial untuk mempromosikan, membagikan konten, juga tentu berjualan dihubungi oleh konsumen.

“Semua dilakukan secara digital, pembeli menghubungi admin untuki memesan dan melakukan pembayaran. Kami mengirim melalui ekspedisi. Saya harus terus mengupgrade diri dengan ide lainnya, strategi marketinng secara online juga harus ters dilakukan, selalu melihat tren di dunia digital,” jelasnya.

Desainer grafis juga sangat dibutuhkan, seseorang dapat menjadi penonton ataupun pelaku. sering melihat banyak sekali grafis yang bagus itu sebenarnya dilakukan oleh orang-orang yang memang belajar desain grafis. Siapapun, usia berapa pun dapat mulai belajar. Terakhir ada media sosial kreatif bagaimana seseorang menjadi pelakunya membuat konten yang seru, bermanfaat, menarik perhatian dengan tema-tema tertentu bukan hanya sekadar konten mengenai kehidupan sehari-hari atau kegalauan kita.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (3/8/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara Dewi Sari (Mafindo), Asep Suhendar (Relawan TIK dan Konten Kreator), dan Rio Silaen sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply