hitcounter
Sunday , November 28 2021

Pancasila Menjadi Roh Warga Digital

Generasi muda khususnya yang masih duduk di bangku sekolah harus mengenal literasi dasar yang dianjurkan Kemendikbud. Ada 6 yaitu literasi bahasa, literasi numerasi, literasi sains, literasi budaya, literasi finansial dan literasi digital. Jadi, sangat berhubungan program Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan literasi program nasional dari Kemendikbud. Bagaimana literasi dicari agar menjadi ruang-ruang manfaat untuk generasi muda.

Kini, saat transformasi digital, literasi digital sangat penting bagaimana mengasah kemampuan menggunakan, mengevaluasi, menguatkan dan mengkomunikasikan teknologi informasi dengan kecakapan kognitif. Jadi bukan hanya memiliki ponsel pintar atau komputer yang kita miliki, tetapi bagaimana kita sebagai user dapat menggunakan ruang media secara baik sehingga tidak bertentangan ketika mengisi konten-konten di Facebook, Instagram tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Sebab, banyak berita bohong yang ada di ruang digital jangan sampai kita ikut-ikutan menyebar hoaks warga sekolah. Penting literasi digital itu sendiri karena ternyata indeks literasi budaya Indonesia masih berada di angka 3470 itu termasuk kategori sedang. Kemudian di tingkat internasional, daya saing digital kita masih tertinggal.

Amir Suhudin, guru SMAN 17 Garut mengatakan, kita sering mendengar di sekolah tentang pendidikan karakter. Karakter itu mudah sja dapat dipahami sebenarnya sesuai dengan Pancasila.

“Profil pelajar beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri dan bernalar. Kemudian senantisa melakukan gotong royong dan selalu giat belajar. Pancasila harus km menjadi roh dan kegiatan belajar di sekolah,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (16/11/2021).

Nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika juga harus hadir di ruang digital. Kita tentu tidak asing dengan ada lima sila, setiap sila itu dapat kita integrasikan ternyata sangat bermanfaat sekali. Bagaimana budaya menggunakan digital tidak bertentangan dengan nilai Pancasila.

Sila ke-1, “ketuhanan yang maha esa” nilai utamanya adalah cinta kasih secara sederhana kita diminta untuk hidup beragama dengan baik memeluk sebuah keyakinan dan kemudian beribadah atasnya. Kendati demikian ada dampak logis dari hak yakni kewajiban untuk menghormati agama dan ibadah orang lain.

Sila ke-2, “kemanusiaan yang adil dan beradab” nilai utamanya adalah setara yakni bagaimana kita menjadi manusia dan manusia kan yang lain dalam berelasi. Mengembangkan tenggang rasa, toleransi, empati, tolong menolong dan saling mendukung sementara beradabmengandung nilai penghormatan atas kehidupan sesuai norma agama, social, budaya juga hukum.

Sila ke-3, “persatuan Indonesia” adalah harmoni yang mengusahakan memprioritaskan mengutamakan kepentingan Indonesia di atas kepentingan pribadi atau kelompok.

“Ruang digital harus digunakan sebagai tempat bersatu sebagai negara Indonesia termasuk juga dalam menghargai produk-produk buatan anak bangsa. Kita dapat bangga menggunakan produk lokal dan juga memamerkan kebudayaan milik Indonesia sebab kita kaya akan kebudayaan dari berbagai suku bangsa di Indonesia,” sambungnya.

Sila ke-4 nilai yang diutamakan adalah demokratis diakuinya kebebasan berekspresi, peradilan yang tidak memihak, pengakuan hak-hak kelompok minoritas, pemerintahan yang konstitusional dan tegaknya supremasi. Demokrasi dapat dijalankan di ruang digital dengan sangat baik namun tentu kita harus bisa bertanggung jawab atas apa yang kita buat di ruang digital.

Selain tidak merugikan orang lain juga tidak merugikan diri sendiri karena ada undang-undang yang mengatur kita berperilaku, ada hukum yang siap mengancam jika melanggar. Sila terakhir nilai yang diutamakan adalah gotong royong sikap kekeluargaan, kerjasama, kerja keras, peduli sesama dan tidak mengeksploitasi orang lain.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (15/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Littani Watimena (Brand & Communicator Strategist), Atib Taufik (Ketua MGMP Kota Depok), Aldiyar (instruktur Edukasi4id), dan Lady Kjaernett sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply