hitcounter
Sunday , November 28 2021

Orang Tua sebagai Tameng Anak Tangkal Kejahatan Siber

Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 25 Oktober 2021 di Pohuwato, Gorontalo. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali ini adalah “Melindungi Anak dari Kejahatan Dunia Maya”.

Program kali ini menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari CEO Belajar Daring Indonesia & penyiar radio lokal, Elia Nusantari Damopolii; Dosen Univ. Negeri Gorontalo & pegiat digital, Isnawati Mohamad; psikolog pendidikan & remaja, Sukma Prawitasari; serta narablog, Mugniar Marakarma. Adapun yang bertindak sebagai moderator adalah Aguslia Hidayah. Kegiatan yang diadakan di Pohuwato kali ini diikuti oleh 690 peserta dari berbagai kalangan. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 orang peserta.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Selanjutnya, Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga selaku Keynote Speaker, turut memberikan sambutan. Ia menekankan pentingnya masyarakat mengikuti program pelatihan literasi digital guna menangkal hoaks maupun kejahatan siber. “Program literasi digital ini bertujuan untuk menambah kecakapan masyarakat, khususnya di Kabupaten Pohuwato agar dapat memanfaatkan internet secara maksimal untuk hal positif, meningkatkan daya saing, dan memajukan perekonomian,” pesan Bupati.

Memasuki sesi pemaparan materi, Elia sebagai narasumber pertama, membawakan materi kecakapan digital dengan tema “Keterampilan Digital dan Belajar Daring”. Menurut dia, peran guru dan orang tua penting untuk mendampingi anak berinternet sehat. Namun, banyak dari mereka tak memiliki pemahaman cukup dalam pemanfaatan teknologi. “Karenanya, kita perlu meningkatkan pemahaman digital agar mampu mendampingi anak berinternet dengan sehat, aman, waspada, baik, dan berani,” ungkapnya.

Berikutnya, Isnawati menyampaikan materi etika digital berjudul “Internet yang Cocok dan Aman untuk Anak di Bawah Umur dan Remaja”. Ia mengatakan, umur yang aman bagi anak untuk menggunakan internet adalah 13 tahun ke atas. Namun, faktanya lebih dari 70% anak saat ini adalah pengguna internet. Orang tua mesti mengarahkan konten positif bersifat edukatif, informatif, inspiratif, dan menghibur untuk anak dan remaja. “Pendampingan dan bimbingan orang tua akan menjauhkan dampak negatif internet, seperti adiksi, pornografi, perundungan siber, kerusakan mental dan perilaku, hingga ancaman kejahatan dunia maya,” jelasnya.

Pemateri ketiga, Sukma, mengusung tema budaya digital tentang “Bersiaplah untuk Sukses: Saat Komunitas Akademik & Anak Didik Menguasai 3 Kompetensi Abad Ini”. Menurut dia, komunitas akademik berperan mengembangkan pendidikan inklusif berbasis digital, menghasilkan SDM yang dinamis, produktif, terampil, menguasai IPTEK dan bertalenta global, serta mengenalkan anak pada internet positif sekaligus memberi pemahaman dampak negatif internet yang perlu diwaspadai. “Era digital mengharuskan kita menguasai kompetensi terkait informasi, media, dan teknologi agar mampu beradaptasi, bertahan, serta bersaing di abad 21,” ungkapnya.

Adapun Mugniar, sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema keamanan digital mengenai “Agar Anak Aman Berinternet”. Ia mengatakan, internet memberi ruang bagi anak untuk beraktivitas. Orang tua bisa mendorongnya ke arah positif agar anak bisa belajar berbagai hal seraya membentenginya dari dampak negatif yang mengintai. “Orang tua harus belajar dan terus memperbarui kemampuan penggunaan teknologi digital dan aplikasi, memberi teladan, membina komunikasi yang baik dengan anak, hingga memantau penggunaan gawai atau internet anak lewat berbagai fitur digital parenting,” pungkasnya.

Acara berikutnya adalah sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator. Sesi ini disambut dengan beragam pertanyaan dari para peserta. Dalam webinar di Pohuwato kali ini, panitia memberikan berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Salah satu pertanyaan menarik peserta adalah tentang bagaimana mengatasi masalah banyaknya laman penyedia jawaban soal ujian sekolah daring. Narasumber menjelaskan bahwa penting bagi kita untuk membentengi diri sendiri dari hal-hal semacam itu, di dukung dengan pendampingan orang tua serta inovasi pengajaran jarak jauh dari pendidik, sekolah, maupun pemerintah.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, silakan kunjungi https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply