hitcounter
Tuesday , August 3 2021

Norma Kesopanan Harus Dikedepankan Saat di Ruang Digital

Jika masyarakat Indonesia dikenal ramah dan sopan, ketika berada di ruang digital sudah seharusnya juga melakukan yang sama. Mudah saja menjadi warganet yang sopan, karena seringnya beraktivitas di media sosial tidak ada salahnya untuk semakin mengenal tipe media sosial.

Sebut saja, Instagram, Facebook, YouTube, TikTok, Twitter ini yang karakteristiknya ialah interaksinya lebih banyak ditambah disaksikan oleh banyak orang, bahkan dapat di share ke banyak orang yang lain. Cara berkomunikasi di dunia yang sangat interaktif ini harus lebih berhati-hati.

“Harus memandang bahwa setiap orang itu adalah yang belum kita kenal. Walaupun sebenarnya dekat tapi khawatir ditafsirkan berbeda oleh teman yang tidak kenal dengan kita. Nantinya percakapan akan menjadi salah tafsir. Hal ini sering terjadi dan memicu ketidaksopanan digital,” jelas Mario Devys, Pengurus pusat Relawan TIK Indonesia dan founder Nunini Agro Food dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/7/2021).

Lain dengan media sosial yang lebih personal seperti di WhatsApp dan Telegram. Komunikasinya sudah mulai bisa lebih dekat. Namun jika sudah berada di grup kita juga harus menjaga sopan santun. Rentang usia, karakter budaya, latar belakang pendidikan di grup-grup yang lebih interaktif itu kemudian akan banyak memunculkan salah tafsir, sehingga perlu berhati-hati juga dalam menyampaikan pesan.

Setelah paham media sosial yang sering kita gunakan, kemudian supaya lebih sopan saat bermedia sigital. Kita wajib mengetahui cara menangkal hoaks. Informasi hoaks itu biasanya memiliki judul yang provokatif.

“Harus mampu mengecek alamat situs, cek kebenaran berita caption dan pastikan membaca teliti sebelum berbagi,” tuturnya.

Menjadi warganet yang sopan tentu harus paham beretika ketika berkomunikasi. Sekalipun menggunakan media sosial yang personal dan melakukan interaksi privat mengucapkan salam saat memulai percakapan itu sangat wajib dilakukan. Selalu ingat kepada siapa kita berkomunikasi, guru atau dosen, orang tua atau teman sebaya sebab cara berkomunikasi akan berbeda.

“Saat mengomentari postingan orang pun harus tahu tujuan kita untuk apa. Jangan membuat mereka salah paham. Terpenting juga harus tahu situasi dan kondisi saat berkirim pesan. Jangan terlalu malam atau meminta izin saat ingin melakukan panggilan suara atau video,” pesannya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Litani B Wattimena (Brand & Communication Strategist), Esa Firmansyah (RTIK Sumedang), Romzy Ahmad (Wakil Ketua Umum GNLD), dan Indi Arisa sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Yuk Sebarkan Hal Positif yang Selaras dengan Nilai Pancasila di Ruang Digital

Kegiatan masyarakat sekarang ini mulai beralih menggunakan media digital. Dikarenakan, transformasi digital kini sudah mencapai …

Leave a Reply