hitcounter
Thursday , August 5 2021

Netizen Indonesia Paling Tidak Sopan Sedunia

Setiap tahunnya, pengguna internet di Indonesia semakin meningkat. Saat ini, Internet hampir terkoneksi bagi seluruh masyarakat. Banyak masyarakat menghabiskan waktunya di internet untuk menggunakan media sosial. Dengan waktu rata-rata penggunaan media sosial selama 3 jam.

Pandemi melahirkan budaya dan kebiasaan baru dalam penggunaan internet. Awalnya masyarakat terbiasa bekerja secara offline kini menjadi online. Tidak semua penggunaan internet pada masyarakat Indonesia baik, ditandai dengan adanya julukan bahwa netizen Indonesia itu paling tidak sopan sedunia menurut Microsoft.

“Indonesia itu memiliki budaya yang santun, attitude yang baik. Akan tetapi kenapa di dunia digital tidak seperti itu? Maka dari itu, kita harus meliterasi diri bagaimana membuat kultur dan budaya bermedia digital yang baik,” ucap Ginna Desiana, Relawan RTIK Jawa Barat dan Creator Game Board DolananYuk.id) dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (8/7/2021).

Budaya digital yang baru, yakni munculnya kecemasan baru dengan sebutan FOMO (Fear of Missing Out). Perilaku ini mengalami ketakutan tertinggal tren yang sedang berlangsung. Masyarakat dengan perilaku FOMO ini terkadang banyak yang kurang mempertimbangkan apakah yang di-posting pada tren tersebut berdampak baik atau buruk.

“Untuk meminimalisir FOMO ini, kadang kita butuh yang namanya social media detox untuk menjaga kultur kita agar tetap baik. Di dunia maya ataupun dunia nyata. Social media detox ini membuat kita secara mental menjadi lebih sehat karena hidup kita tidak selalu bergantung pada dunia digital,” lanjutnya.

Sebaliknya, ada JOMO (Joy of Missing Out), yaitu seseorang yang tidak peduli atau tidak memikirkan tren yang ada. Orang dengan JOMO kebanyakan santai dalam bermain media sosial. Namun, tidak terlalu update mengenai sesuatu juga kurang baik, karena terkadang ada tren yang memang harus diketahui dan diikuti. Misalnya menyangkut kepentingan sesama masyarakat.

Ginna mengatakan, tanpa disadari berbudaya sopan sudah ada semenjak Pancasila ditetapkan. Namun, disayangkan pada media sosial masyarakat Indonesia belum sepenuhnya dapat memberlakukan perilaku sopan itu. Generasi Indonesia seharusnya mampu berpikir kritis, berbudaya, dan berkolaborasi mengenai hal-hal baik di media sosial. Membangun digital culture yang baik, pengguna harus memahami tipe media sosial, tidak mempercayai hoaks dengan selalu menyaring informasi yang didapat dari media sosial, dan menggunakan etika saat berinteraksi.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis (8/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Ade Irma Sukmawati (Universitas Teknologi Jagakarsa), Sisi Suhardjo (General Manager IRIS PR), Fikri Mohammad Hakim (Senior Manager Safety), dan Clarissa Darwin sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply