hitcounter
Friday , September 17 2021

Moderasi Beragama dan Budaya Indonesia di Ruang Digital

Ruang digital hendaknya diisi dengan konten keagamaan yang apabila disebarkan merupakan penuh kedamaian. Lalu bagaimana cara agar masyarakat bisa membangun budaya seperti itu? Yakni tidak terjebak dengan hoaks dan tidak mudah terprovokasi dengan ujaran kebencian, maka di sinilah peran moderasi beragama.

“Jadi moderasi beragama bukan hanya untuk agama tertentu, tapi juga untuk seluruh agama,” Kata Ramdani Sururie, Dosen Pascasarjana UIN SGN Bandung saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat I, pada Jum’at (10/9/2021).

Menurutnya saat ini masyarakat tengah menghadapi tantangan, tidak hanya dalam penggunaan internet dan teknologi digital memberikan manfaat bagi penggunanya tapi juga membuka peluang bagi berbagai persoalan. Kurangnya kecakapan digital dalam menggunakan perangkat keras maupun lunak akan menyebabkan penggunaan media digital yang tidak optimal. Termasuk juga lemahnya budaya digital akan menyebabkan rendahnya etika digital dan ekosistem digital kurang menyenangkan karena konten-konten negatif. Bahkan dengan lemahnya pengetahuan terkait literasi digital akan berpotensi kebocoran data pribadi.

“Nilai-nilai moderasi beragama di ruang digital pun menjadi penting sebab banyak umat beragama yang belajar melalui media online. Hal itu terjadi karena masyarakat Indonesia kurang suka membaca buku, dibanding mencari referensinya melalui media online,” kata Ramdani.

Selain itu lebih penting mencegah dampak negatif media online dalam memahami agama, karena di ranah digital begitu banyak konten-konten yang berisi ajakan radikal dan kekerasan atas nama agama. Sehingga perlu juga adanya internalisasi nilai-nilai moderasi beragama melalui media online.

Implementasi moderasi beragama ini dalam hubungan agama dan negara yaitu pemahaman akan hidup dalam NKRI, dengan falsafah Pancasila yang mengajarkan toleransi dalam beragama. Sehingga aplikasinya dalam hubungan antara umat beragama adalah tidak mudah mengkafirkan dan membid’ah kan pemahaman keagamaan yang berbeda.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Sahlan Mujtaba, Dosen PBSI UNSIKA, Atep Kurnia, seorang Penulis dan Peneliti Literasi, dan Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Bersatu Menjaga Dunia Digital Tetap Aman

Ruang digital sebagai tempat tinggal baru masyarakat zaman sekarang. Dunia yang tanpa batas sekalipun teritori …

Leave a Reply