hitcounter
Sunday , November 28 2021

Merawat Warisan Budaya Indonesia di Tengah Serangan Globalisasi Lewat Internet

Sejak aktivitas online semakin tinggi dan tidak ada lagi batas jarak, waktu, maupun wilayah negara membuat pertemuan ragam budaya lain di ruang digital. Apakah ragam budaya dari Sabang hingga Merauke yang Indonesia miliki, maupun masuknya budaya asing.

“Jadi kita nggak asing lagi melihat budaya-budaya lain. Seperti yang sedang mendunia yaitu Korean wave, budaya Korea lewat K-Pop maupun drama-dramanya dan beraneka macam kulinernya,” kata Dessy Natalia, Assistant Lecturer & Industrial Placement Staff UBM, saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, pada Rabu (17/11/2021).

Dia mengungkapkan, mempelajari budaya asing sangat baik sehingga setiap orang akan memahami tengah berada dalam keragaman. Bahwa saat ini masyarakat hidup di tengah budaya yang majemuk, sehingga lebih sadar untuk bertoleransi dan mampu menghargai perbedaan yang ada.

Namun di sisi lainnya dengan masuknya budaya-budaya asing lewat ruang digital menjadi ancaman terhadap budaya Indonesia. Sebab nantinya jika tidak terus dijaga, dipelajari dan diwariskan, maka akan luntur. Apalagi budaya merupakan sesuatu yang akan berkembang, sehingga jika tidak dijaga bisa hilang. Jangan sampai generasi berukutnya tidak mengenal budayanya sendiri.

“Indonesia negara majemuk, multikultural dan demokratis. Apalagi untuk orang di luar sana, (budaya) kita bisa sangat menarik bagi mereka, karena budaya yang kita punya tidak dimiliki bangsa lain,” ujarnya lagi.

Dari total 275 juta lebih penduduk, Indonesia memiliki 1331 suku bangsa, sebanyak 716 bahasa daerah, 6 agama, 245 kepercayaan. Wujudnya pun hadir dalam pakaian adat, tarian daerah, alat musik, senjata, hingga makanan daerah yang menjadi kekayaan sangat bernilai harganya.

Webinar Literasi Digital di Kota Bekasi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Webinar kali ini juga mengundang nara sumber seperti Pringgo Aryo, Produser dan Komposer Musik, Nikita Dompas, seorang Produser dan Music Director, Adri Liberty, Legal BCAinsurance, serta Ryan Samuel, seorang Dokter Muda Pehobi Fotografi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply