hitcounter
Sunday , November 28 2021

Menyebarkan Keunikan Budaya Bangsa di Ruang digital

Indonesia memiliki warisan budaya yang perlu dilestarikan supaya agar punah. Bukan hanya budaya, keindahan alam dan kekayaan kuliner Indonesia ikut menjadi kelebihan yang tidak dimiliki bangsa lain.

Shandy Susanto, Dosen Podomoro University mengatakan promosi budaya Indonesia dilakukan agar penerus bangsa dapat berbagi cerita tentang keunikan yang hanya dan di daerah tempat tinggal, hingga tradisi-tradisi yang hanya dilakukan pada hari tertentu.

“Setiap orang dapat memanfaatkan teknologi digital untuk mempromosikan budaya Indonesia,” katanya saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat I, pada Rabu, (3/11/2021).

Hal tersebut bertujuan supaya masyarakat yang berbeda pulau bahkan berbeda negara dapat mengetahui keberagaman budaya yang dimiliki setiap daerah Indonesia. Menurutnya, ada begitu banyak warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO seperti pencak silat, perahu pinisi, tari Bali, angklung, noken, tari saman, wayang kulit, batik, keris, gamelan, lumpia, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan.

“Ruang lingkup budaya pun sebenarnya begitu luas. Tapi salah satu aspek yang berkaitan erat dengan kebudayaan adalah kearifan lokal,” katanya lagi,

Kearifan lokal sendiri disebut juga sebagai local genius yang berarti sejumlah ciri kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat sebagai sebuah akibat dari pengalaman di masa lalu. Adapun menurut penulis Yunus Abidin, kearifan lokal dipahami sebagai budaya yang dimiliki oleh masyarakat tertentu.

Budaya tersebut ditempatkan pada suatu lokasi tertentu. Kearifan lokal bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan dan menciptakan kedamaian pada suatu masyarakat yang meliputi beragam hal. Misalnya sistem nilai, kepercayaan, agama, ideologi, maupun etos kerja.

Webinar Literasi Digital di Kota Depok, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Pringgo Aryo Pradana, seorang Produser & Komposer Musik, Vivi Andriyani, Marcomm & Promotion Specialist, Bianca Utaya, Creatove Director of Murni Sarana Cargotama, Rino dari Kaprodi Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply