hitcounter
Sunday , September 19 2021

Menyadari saat Menjadi Warga Digital Agar Selalu Membiasakan Diri Menerapkan Etika

Etika saat bermedia sosial sangat diperlukan sebab latar belakang dan lingkungan pengguna media sosial heterogen dan berbeda satu sama lainnya. Komunikasi di dunia digital juga didominasi dengan teks saja, sehingga sangat mungkin penafsiran tiap pengguna juga berbeda hingga diciptakan gambar emoticon agar tidak salah pengertian.

Di era internet sekarang ini, hubungan antar pengguna pun tidak dibedakan antara online dan offline lagi. Sehingga perlu ada kesadaran lagi bahwa seluruh pengguna adalah warga negara virtual. “Kita harus tahu bahwa saat kita sudah masuk ke ruang digital kita adalah bagian dari warga negara virtual. Sehingga pastinya menginginkan lingkungan digital yang teratur demi kenyamanan pengguna,” kata Inne Nathalia, seorang Humas dan Dosen Komunikasi saat menjadi nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, pada Rabu (25/8/2021).

Ada beberapa jenis etika di ruang digital, seperti copy right isue atau Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), cyberbullying, hoaks, penipuan berbasis online, pencurian identitas, dan masih banyak lagi. Untuk menghindari segala hal yang melanggar etika tadi, Inne mengemukakan agar banyak bertanya dulu kepada diri sendiri sebelum mengunggah sesuatu ke media sosial. Seperti apa tujuannya, apakah bisa memastikan keakuratannya, apakah bebas dari isu SARA, apakah akan merusak reputasi, dan apakah melanggar aturan bermedia sosial dan melanggar hukum.

“Apakah unggahannya bersifat umum atau berisi informasi pribadi yang rahasia, apakah saya menghormati pihak lain dalam unggahan, apakah saya benar memahami seluruh konteks isi, hingga apakah unggahan benar-benar ada di media yang tepat untuk disampaikan,” kata Inne lagi.

Inne mengingatkan untuk berpikir terlebih dahulu sebelum menggungah sesuatu. Apakah benar, bermanfaat, menginspirasi, diperlukan, dan baik? Sebelumnya jangan lupa untuk mengecek dulu informasi yang ingin dibagikan, jangan sampai karena ketidaktahuan dan asal mengunggah justru terancam hukuman pidana UU ITE terkait hoaks atau informasi palsu, maupun ujaran kebencian.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Daniel Hermansyah, CEO of Kopi Chuseyo, Irma Nawangwulan, Lecture IULI, dan Asep H. Nugroho, Dosen Fakultas Teknik UNIS.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply