hitcounter
Thursday , January 27 2022

Menjawab Tantangan Transformasi Digital

Penerapan budaya digital mengedepankan perubahan pola pikir agar bisa beradaptasi dengan perkembangan digital. Oleh karena itu, budaya digital penting di era ini. Ketika kita di ruang digital perlu sikap berbudaya. Hal ini karena kita juga berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang budaya digital.

Sekarang ini transformasi digital sudah memasuki seluruh aspek kehidupan. Akan tetapi, transformasi digital layaknya pisau bermata dua dengan dampak positif dan negatif yang bisa dirasakan penggunanya.

“Supaya kita banyak merasakan dampak positifnya harus ada penerapan dari budaya digital,” ujar Elfira Fitri Wahyono, Manajer External Student Affairs of UMN dalam Webinar Literasi Digital di Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (25/11/2021).

Ia memaparkan, dampak positif dari transformasi digital membuat akses informasi lebih cepat dan mudah. Kemudian, bertumbuhnya inovasi masyarakat dalam berbagai bidang. Kemajuan ini juga selaras dengan meningkatkan kualitas dan efisiensi dalam kehidupan. Tidak ada batasan ruang dan waktu untuk merasakan dampak positif dari transformasi digital. Ketika ada dampak positif, selalu ada dampak negatifnya.

Di dunia digital, dampak negatif yang terjadi yaitu maraknya pelanggaran hak cipta atau hak kekayaan intelektual. Rendahnya ketersediaan lapangan pekerjaan karena SDM tergantikan oleh teknologi digital, beredar hoaks secara masif, muncul budaya serba instan, dan meningkatnya kejahatan digital.

Dari kedua dampak tersebut, sebagai pengguna kita menghadapi tantangan era transformasi digital. Tantangan ini akan merubah tatanan kehidupan bermasyarakat. Apabila kita tidak mampu menghadapi tantangan tersebut, kemerosotan moral bangsa beserta nilai kebudayaannya akan ikut tergerus. Menurut survey DCI, kesopanan netizen Indonesia berada di urutan terendah di Asia Tenggara.

“Selanjutnya yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara menghadapi tantangan transformasi digital. Kita jawab dulu tantangan tersebut,” tuturnya.

Upaya yang bisa kita lakukan sebagai bangsa Indonesia ialah memperkuat nilai budaya dan karakter bangsa sebagai pondasi kokoh dalam berinteraksi di ruang digital. Kalau kita memiliki budaya dan karakter yang baik, maka dengan sendirinya kedua hal tersebut akan berfungsi sebagai penyaring nilai-nilai kebudayaan baru yang akan masuk ke kehidupan kita. Budaya yang paling sesuai dengan kita ialah budaya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini karena Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika bisa dijadikan landasan berinteraksi di ruang digital.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah  Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (25/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Sandy Natalia (Co-Founder of Beauty Cabin), Roky Tampubolon (Praktisi Hukum), Adri Liberty (Legal BCAinsurance), dan Janna S. Joesoef (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

MediaTek Tunjukkan Teknologi Wi-Fi 7 di Dunia kepada Pelanggan dan Pemimpin Industri

MediaTek mengumumkan demo langsung pertama teknologi Wi-Fi 7 di dunia, menyoroti kemampuan portofolio konektivitas Wi-Fi …

Leave a Reply