hitcounter
Wednesday , October 20 2021

Mengimplementasikan Nilai-Nilai Budaya karakter Indonesia di Ruang Digital

Di balik media sosial, setiap orang sebenarnya tetap berinteraksi dengan manusia, bukan robot atau sekadar layar. Sehingga manusia di balik layar pun bisa saja merasa tersinggung, marah, maupun sedih saat dihina, maupun mendapat cacian dari pengguna lain. Mengimplementasikan nilai-nilai budaya kesopanan masyarakat Indonesia yang telah mengakar menjadi jawaban bahwa berinteraksi di ruang digital seharusnya sama dengan di dunia nyata.

Golda Siregar, Senior Consultant at Power Character mengungkapkan, semenjak transformasi digital mengalami percepatan di masa pandemi Covid-19, kehidupan masyarakat memang berubah. Kini bekerja dan belajar pun dilakukan di rumah, transaksi keuangan, berbelanja dan mencari hiburan juga secara online.

“Namun meski kini semuanya mengarah pada digitalisasi, di satu sisi lainnya setiap individu tetap harus memiliki hubungan satu sama lainnya karena manusia merupakan makhluk sosial,” ujarnya saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I,  pada Jum’at (8/10/2021).

Berhubungan dengan transformasi digital tersebut hal ini berkaitan saat individu berinteraksi sosial melalui media sosial. Etika di ruang digital dalam mengunggah pesan dan mengomentari sesuatu akan memengaruhi relasi dengan manusia lainnya. Setiap individu mesti mengetahui bahwa interaksi sosial juga mengalami transformasi. Diperlukan mindset harus berubah, bukan hanya semuanya harus digitalisasi tapi juga secara personal budaya tersebut harus dibangun.

“Nilai-nilai budaya Indonesia seharusnya diterapkan di ruang digital, karena sebenarnya budaya digital hadir untuk memperkuat karakter bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebangsaan Indonesia, bukan untuk memecah belah kesatuan di dunia maya,” kata Golda.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Klemes Rahardja, Founder The Enterpreneur Society, Monica Eveline, Digital Strategist Diana Bakery, dan Mardiana R.L, Vice Principal in Kinderhouse Pre-School.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Melihat Peluang Berjualan di Marketplace

Geliat UMKM di Indonesia dengan datangnya pandemi Covid-19 untuk masuk ke marketplace meningkat. Sebanyak 15,3juta …

Leave a Reply