hitcounter
Sunday , November 28 2021

Menggunakan Bahasa Baik dan Benar

Kaidah dalam berbahasa merupakan sebuah aturan-aturan yag digunakan dalam membentuk kalimat yang baik dan benar. Dalam penjelasan Asep Jamal selaku Kepala Sekolah SMAN 11 Bekasi, bahasa dapat dikatakan baik apabila maknanya dapat dipahami oleh komunikan dan sesuai dengan situasi komunikasi. Sementara itu, bahasa yang benar adalah bahasa yang mengikuti aturan bahasa baku.

“Kadang-kadang bahasa baik tetapi tidak benar, kadang bahasa benar tetapi tidak baik. Tidak jarang juga kita bisa menemukan keduanya, baik dan benar,” ucap Asep dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (3/11/2021).

Ketika menggunakan bahasa harus melihat dan memperhatikan situasi juga kondisi. Kita harus bisa memilih berbahasa yang baik dengan teman, orang tua, guru, bahkan penjual di pasar. Penggunaan ruang digital pun berpengaruh terhadap cara kita berbahasa. Dalam ruang digital, gambaran penggunaan bahasa yang baik dan benar akan lebih cepat dimengerti oleh lawan bicara ketika pesan tersebut disampaikan dengan bahasa yang baik dan benar.

Banyak fenomena terjadi juga terkait penggunaan bahasa, seperti mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, bahasa gaul, hingga menciptakan bahasa baru.

“Dalam komunikasi di ruang digital pun harus dilakukan dengan lebih baik. Dengan teman, adik, orang tua, dan masyarakat harus mengkondisikan penggunaan bahasa yang baik dan benar karena kekhawatiran menyinggung perasaan orang lain, apalagi dengan orang tua yang harusnya kita hormati,” ungkap Asep.

Ia menyampaian, bisa saja ketika kita berkomunikasi menggunakan kata-kata lucu tetapi menurut lawan bicara itu tidak lucu, bahkan terkesan menyinggungnya. Selain itu, perbedaan bahasa daerah juga kerap kali berakhir dengan salah paham. Terlebih pada dunia digital yang mengedepankan komunikasi melalui tulisan. Oleh karena itu penggunaan bahasa harus disesuaikan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (3/11/2021) juga menghadirkan pembicara,  Ririn Setyorini (Wakasek Bidang Kurikulum SMAN 11 Bekasi), Pipit Djatma (Foundraiser Consultant & Psychosocial Activist IBU Foundation), Asyraf Ilmansyah (Data Scientist & Analyst BRI), dan Fanny Fabriana (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply