hitcounter
Monday , September 20 2021

Mengenalkan Budaya Indonesia Melalui Literasi Digital

Dunia digital merupakan ruang tanpa batas dan setiap orang dapat selalu terhubung dengan semua informasi yang memungkinkan untuk diakses di mana saja kapan saja secara instant. Namun Dunia digital yang juga menyediakan ruang interaktif bagi para penggunanya dan tetap perlu etika.

“Setiap orang perlu berhati-hati karena anonimitas di internet membuat orang di dalamnya bisa menjadi siapa saja. Berbagai hoaks dan bentuk ujaran kebencian, serta radikalisme juga mengancam dan bisa memecah belah bangsa di internet,” kata Dessy Natalia, Asst. Lecture & Industrial Placement Staf UBM saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (16/8/2021).

Ruang digital pun telah mengubah paradigma budaya dan etika masyarakat Indonesia yang sopan dan ramah. Hal tersebut terlihat dengan survei Microsoft baru-baru ini yang menyebut netizen Indonesia tidak sopa se-Asia Tenggara. Fakta ini cukup miris sebab Indonesia dikenal memiliki budaya ramah tamah. Seharusnya apa yang sudah diaplikasikan di kehidupan nyata bisa diterapkan di ruang maya, setiap orang mestinya memahami dulu bagaimana menciptakan budaya yang baik dan diteruskan di ruang digital.

Selain budaya sopan santun, Indonesia juga merupakan negara majemuk, multikultural, dan demokratis. Berbagai jenis kebudayaan dari Sabang hingga Merauke membuat Indonesia kaya akan keunikan tradisi yang menjadi nilai jual. Termasuk bahasa, Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah dan Indonesia merupakan pemilik bahasa terbanyak di dunia setelah Papua Nugini. Menurut Dessy, berbagai kekayaan dan keragaman budaya Indonesia ini di era digital bisa semakin diperkenalkan lewat berbagai konten selain itu hal tersebut bisa menjadi nilai positif bagi para content creator karena mempopulerkan budaya sendiri.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Daniel Hermansyah, CEO of Kopi Chuseyo, Monica Eveline, Digital Strategic Diana Bakery, dan Sophie Beatrix, Psikolog Praktisi dalam bidang Pendidikan & Industri.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply