hitcounter
Tuesday , August 3 2021

Mengenal Filter Bubble di Algoritma Media Sosial

Sadarkah Anda sering mendapat informasi dan berita dengan topik yang sama setiap saat? Hal tersebut merupakan penyaring informasi yang didapatkan pengguna saat menggunakan media sosial dan mesin pencari atau disebut Filter Bubble.

Sebenarnya, tujuannya untuk memfilter atau algoritma yang bisa dipergunakan untuk sebagai media informasi ataupun penyaring informasi mana yang cocok. Jadi apa yang Anda cari, yang Anda sering lihat atau baca akan selalu dihadirkan media digital Anda.

Muhammad Ayip Faturohman, relawan TIK Kota Cirebon mengatakan, dampak negatif dari filter bubble ialah pengguna media sosial menjadi tidak dapat berpikir secara kreatif ataupun berpikir dari sudut pandang lain.

“Jadi hanya berpikir, berfokus pada sudut pandang yang kita punya dan hal ini bisa menjadikan kita pro terhadap informasi yang selalu kita terima meskipun itu hoaks,” ujar Ayip dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/7/2021).

Lantas, bagimana caranya keluar dari filter bubble? Mudah saja, Anda harus sering mencari informasi lain atau mencari sudut pandang lain. Jadi perbanyak sumber dan cara pandang teman-teman yang lain dalam media sosial. Coba juga untuk menggali informasi, apakah termasuk hoaks atau bukan. Hoaks harus disadari sebagai sesuatu yang berbahaya dan jangan tergoda untuk membagikan informasi yang belum jelas.

“Informasi hoaks dapat menyebar 10 kali lebih cepat daripada klarifikasinya. Ketika ada sebuah informasi hoaks sudah menyebar kemudian baru datang klarifikasinya. Informasi yang benar atau klarifikasinya itu tidak dapat diketahui secara cepat karena banyak orang yang malas membaca, seseorang sudah percaya pada informasi awal,” ungkap Ayip.

Jika ingin membagikan memang kuncinya jangan malas membaca keseluruhan isi informasi yang didapat dan harus kritis dengan mau mencari kebenarannya. Misalnya, mencari tahu di media massa yang kredibel atau yang terdaftar di dewan pers

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (8/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Litani B Wattimena (Brand and Communication Strategist), Vitalia Fina Carla (Dosen Universitas Bali Internasional), Ahmad Zakiy (Kordinator Program Sejiwa), dan artis Bertrand Antolin sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Yuk Sebarkan Hal Positif yang Selaras dengan Nilai Pancasila di Ruang Digital

Kegiatan masyarakat sekarang ini mulai beralih menggunakan media digital. Dikarenakan, transformasi digital kini sudah mencapai …

Leave a Reply