hitcounter
Monday , September 20 2021

Mengaplikasikan Bangsa Berbudaya yang Sopan dan Ramah di Dunia Nyata dan Ruang Digital

Dunia digital yang tanpa batas membuat siapa saja bisa masuk ke dalamnya, di mana setiap orang dapat selalu terhubung dan segala informasi memungkinkan untuk diakses di mana saja kapan saja secara cepat. Dunia digital juga menyediakan ruang interaktif bagi para penggunanya, namun setiap orang perlu hati-hati karena anonimitas di internet karena setiap orang bisa menjadi siapa saja.

“Hati-hati dengan akun palsu yang hanya menyebarkan ujaran kebencian, memecah belah bangsa,” kata Dessy Natalia, Asst. Lecture & Industrial Placement Staf UBM saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I pada Kamis (5/8/2021).

Selain itu Dessy mengungkapkan saat ini ada HRD perusahaan mengecek terlebih dahulu jejak digital seseorang yang hendak dipekerjakan, begitupun pemberi beasiswa. Oleh karenanya penting bagi setiap individu untuk menjaga ruang digitalnya berisi hal-hal positif dan hendaknya setiap orang tidak lagi memisahkan ruang digital dengan fisik karena semua ini merupakan bagian realitas dan diatur oleh hukum.

Apa yang diterapkan di ruang kehidupan nyata juga perlu dilakukan di ruang digital misalnya terkait budaya. Berbicara mengenai budaya berarti tentang lingkup di suatu wilayah yang diwarisi dari generasi ke generasi selanjutnya. Seperti adanya keragaman suku bangsa, bahasa daerah, tarian, alat musik teadisional, kuliner lokal hingga pakaian adat. Semua ini bisa menjadi nilai jual, dari Indonesia yang akhirnya membuat orang dari daerah lain tertarik untuk datang karena keaslian dan kerahamannya masih terjaga.

Sangat miris dengan survei terbaru Microsoft yang menyebut netizen Indonesia mayoritas pengguna media sosialnya paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Padahal Indonesia terkenal dengan budayanya yang sopan dan ramah apalagi terhadap turis.

“Jangan karena adanya ruang digital ini justru menggeser paradigma tersebut. Apalagi penelitian ini dipublish ke banyak negara yang mengakses, jangan sampai menjadi citra buruk dan aib bangsa kita sendiri. Karena itu kita mesti paham dulu bagaimana menciptakan budaya yang baik diteruskan di ruang digital. Jangan memisahkan di ruang fisik kita mampu menerapkan budaya yang sudah ada dari orang tua kemudian masuk ke ruang digital jadi hilang,” ujarnya lagi.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Teguh Kurniawan, Business Owner Bimasakti, Syarief Hidayatulloh, Digital Strategic Hello Monday Morning dan Sophie Beatrix, Psikolog Praktisi dalam bidang Pendidikan & Industri.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply