hitcounter
Monday , September 20 2021

Menerapkan Etika Digital dengan Saring Kabar Keliru

Eksistensi media informasi di Indonesia saat ini dirajai oleh telepon seluler. Penggunaan telepon seluler mengalami kenaikan hingga 500% menurut data dari Dewan Pers pada 2018. Tentunya, terdapat ratusan hingga ribuan informasi yang berseliweran di internet setiap harinya.

Fenomena digitalisasi saat ini mewajibkan seluruh pengguna menerapkan etika digital agar ruang digital selalu positif. Akan tetapi, rendahnya penerapan etika digital menciptakan maraknya konten negatif. Penerapan etika digital pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan etika di dunia nyata.

“Menggunakan media digital harus diseimbangkan dengan keadaan penduduk Indonesia yang multikultur. Ketika mengunggah atau memposting sesuatu harus dipertimbangkan lebih dulu,” tutur Depi Agung, Pegiat Pemeriksa Fakta, selaku pembicara dalam Webinar Literasi Digital di wilayah Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (4/8/2021).

Menurut Depi, postingan media sosial yang sepadan harus dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang multikultural. Postingan harus didasari pada hal-hal yang bisa dipertanggungjawabkan, tidak asal posting dan menyebarkan sesuatu.

Oleh karena itu, penerapan netiket menjadi penting sebagai acuan kita berinternet. Netiket terdiri atas pengetahuan mengenai hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif lainnya. Selain itu, pengetahuan dasar terkait interaksi, partisipasi, dan kolaborasi di dunia digital. Ia mengatakan, H\hal yang perlu digarisbawahi dalam netiket ialah sikap kesadaran diri bahwa kita berkomunikasi dengan manusia di ruang digital.

Sebagai sebuah tindakan yang dilarang, menyebarkan hoaks atau kabar bohong menjadi salah satu hal utama yang harus diperhatikan dan dihindari di internet.

“Setiap hari kita menerima broadcast-broadcast atau pesan berantai yang isinya provokasi, ujaran kebencian, dan ini perlahan akan mempengaruhi pemikiran kita,” ujarnya.

Dampak penyebaran hoaks ini bisa menciptakan kebingungan, kecemasan, dan kegaduhan di publik. Kita sadar betul bahwa hoaks merupakan dampak negatid dari perkembangan teknologi. Dampak hoaks lainnya bisa merusak nama baik seseorang atau sekelompok, meretakkan kerukunan, hingga mengganggu tatanan politik.

Dalam penjelasan Depi, penyebaran hoaks memiliki tiga jenis disorder informasi yang banyak beredar di media sosial. Di antaranya:

  1. Mis informasi, informasi salah yang dibuat dengan tidak sengaja dan menimbulkan kekacauan.
  2. Dis informasi, informasi palsu yang dibuat dengan sengaja dan bertujuan untuk menyesatkan serta menyebabkan kerugian.
  3. Mal informasi, informasi asli yang dibagikan dan bertujuan untuk menyebabkan kerugian.

Ketiga jenis informasi tersebut memiliki turunan lagi, yaitu satire, konten menyesatkan, konten tiruan, konten palsu, konten manipulasi, konten yang salah, dan koneksi yang salah.

Untuk mencegah hoaks, paling tidak sebagai pengguna media sosial yang beretika, kita senantiasa saring sebelum sharing agar tidak menyebarkan kabar keliru. Pertama, menelaah siapa penyebar informasi. Kedua, bukti-bukti secara ilmiah terkait suatu pembahasan. Ketiga, membandingkan informasi tersebut dengan informasi serupa di media lain.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (4/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Henry V. Herlambang (CMO Kadobox), Aditya Nova Putra (Ketua Jurusan Hotel Pariwisata International University Liasson Indonesia), Eddy P. Purnomo (Digital Business Project Manager at PT. Bank OCBC NISP Tbk), dan Louiss Regi Aude.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply