hitcounter
Sunday , November 28 2021

Menerapkan Etika, Bertanggung Jawab Menggunakan Media Sosial

Interaksi sosial telah berpindah dari pertemuan tatap muka menjadi online di ruang digital lewat media sosial. Akhirnya etiquette atau kependekan dari network etiquette diperlukan setiap pengguna internet saat berinteraksi di ruang digital.

“Di ruang digital kita harus ingat bahwa sedang berinteraksi dengan manusia yang memiliki rasa dan karsa,” kata Vivi Andriyani, Marcomm & Promotion Specialist saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (12/11/2021)

Mengingat keberadaan orang lain, menjadi cara agar seseorang ingat akan etika di ruang digital. Meskipun tidak bertemu langsung saat ada di ruang digital setiap orang di dalamnya tetap berhadapan dengan manusia yang memiliki perasaan, bukannya robot atau mesin. Begitu juga saat mengunggah sesuatu, setiap orang perlu berhati-hati dengan informasi yang sifatnya pribadi. Seperti berupa informasi yang sensitif mengandung SARA sebaiknya tidak diunggah di media sosial.

Pada dasarnya interaksi di internet tidak jauh berbeda sebenarnya. Hal ini termasuk dalam penggunaan bahasa yang sopan. Agar menghindari penipuan dan tindak kejahatan, setiap individu juga perlu berhati-hati dengan akun yang tidak dikenal. Sebab di internet seseorang bisa menjadi siapa saja, anonimitas merupakan hal yang harus diwaspadai di ruang digital.

Mengenai hoaks atau penyebaran berita palsu serta ujaran kebencian yang telah diatur di Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) diharapkan pengguna juga membiasakan diri agar tidak menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya. Agar lebih yakin, sebaiknya cek dan ricek kembali informasi apapun yang beredar di internet.
Sehingga perlu disadari juga untuk membiasakan diri berbagi informasi yang penting dan bermanfaat saja.

Webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Di webinar kali ini, hadir pula nara sumber seperti Mosav, Graphic Designer di papermark.id, Elfira Fitri, Manager External Student Affairs Universitas Multimedia Nusantara, Asep H Nugroho, Dosen Fakultas Teknik UNIS, dan Louiss Regi, seorang Digital Creator.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply