hitcounter
Monday , September 20 2021

Menarik Audiens Milenial dengan Konten Digital

Generasi milenial  disebut generasi yang percaya diri, kreatif, dan terkoneksi. Media sosial saat ini didominasi oleh generasi milenial dan ini juga menjadi alasan generasi milenial dijadikan target pasar.

“Dalam literasi digital, kebiasaan digital generasi milenial ini sangat berbeda jauh dari generasi sebelumnya. Setiap jamnya bisa 27 kali generasi milenial mengecek gawai mereka, termasuk hp dan laptop,” papar Maria Natasya atau Tasya, seorang Graphic Designer saat berbicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (4/7/2021).

Paparan Tasya menyatakan, generasi milenial menghabiskan waktu hingga 18 jam perhari dalam menggunakan gawai. Tidak hanya dimanfaatkan untuk bekerja, gawai ini digunakan untuk bermain game, menonton, dan berkomunikasi. Selain itu, generasi ini mengandalkan media sosial sebagai tempat mencari informasi.

Banyaknya milenial yang mencari informasi melalui media sosial mengharuskan akun-akun tertentu untuk menyajikan konten yang menarik. Konten merupakan informasi yang tersedia melalui media atau produk elektronik. Dalam media digital konten ini dibagi menjadi tiga bentuk, tulisan, gambar, dan suara. Menarik ini harus menyenangkan, membangkitkan rasa kasih, dan mempengaruhi atau membangkitkan hasrat.

Adanya keterlibatan milenials menjadi salah satu alasan generasi ini menyukai konten digital ataupun digital marketing. Digital marketing sendiri merupakan kegiatan memasarkan produk atau layanan menggunakan internet atau teknologi digital.

Ia menjelaskan, di dalam marketing offline, biasanya tidak ada keterlibatan dari milenials. Hal ini disebabkan oleh jenis komunikasi satu arah yang banyak dilakukan oleh marketing online. Sebaliknya, komunikasi dalam digital marketing itu berlangsung secara dua arah. Hal menarik lainnya dari marketing online karena feedback bisa didapatkan secara instan. Kemudian, target menjadi lebih spesifik, biaya murah, dan hasil dari digital marketing bisa terukur jelas karena adanya insight dan engagement.

“Bikin konten sama seperti kita sedang pendekatan (PDKT). Dimulai dengan kenalan, memilih sesuai kriteria, dan menjalin komunikasi,” ujar Tasya.

Tahap kenalan ini kita memahami dan memilih media sosial yang disukai untuk dimanfaatkan dalam pembuatan konten. Pada tahap sesuai kriteria, kita buat audiens sesuai dengan kriteria yang nilai-nilainya cocok dengan kita. Misalnya, konten positif berunsur kejujuran. Lalu, berinteraksi dan berkomunikasi setelah konten diposting. Interaksi dan komunikasi ini membuat audiens milenial merasa dekat, terlibat, dan dispesialkan.

Media sosial ini digunakan untuk branding. Tasya menyampaikan bahwa kita harus membuat audiens percaya dengan cara menjalin hubungan, mendengarkan, dan menjaga reputasi akun media sosial. Serta, sensitif terhadap keinginan audiens.

Menurutnya, konten yang dibuat harus bisa dikonsumsi publik dan lebih baik dari kompetitor. Hal ini dimaksudkan agar konten lebih menonjol dan menarik. Konten yang dibuat juga harus cocok dengan branding perusahaan dan menyajikan informasi dengan sumber yang valid.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (4/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Nikita Dompas (Producer & Music Director), Dessy Natalia (Asst. Lecture & Industrial Placement Staff UGM), dan Mardiana R.L. (Vice Pricipal in Kinderhouse Pre School), dan Janna S. Joesoef.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply