hitcounter
Friday , September 17 2021

Melawan Ujaran Kebencian di Dunia Maya

Survei Digital Civility Index Microsoft yang menyebut tingkat kesopanan masyarakat Indonesia paling rendah se-Asia Tenggara dan termasuk terendah ke-4 di dunia. Di antaranya penilaian tersebut didapat karena unggahan yang berupa hoaks dan penipuan, mengandung ujaran kebencian dan diskriminasi.

“Kita harus selalu berpikir sebelum komentar dan cek re-check jangan asal share, tulis status. Kalau suasana hati sedang tidak baik sebaiknya tahan dulu. Jangan sampai ternyata yang dibagikan ujaran kebencian, ada yang tidak suka lalu melanggar UU ITE pada akhirnya itu akan berdampak yang sangat fatal terhadap kita,” kata Arief Syamsudin, Kepala Bidang Informatika Diskominfosanditik Kabupaten Sumedang, saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat I, pada Selasa (24/8/2021).

Terkait dengan hal tersebut, Arief mengemukakan ada tiga hal yang harus ditingkatkan. Pertama literasi digital masyarakat dengan meningkatkan kesadaran tentang saring sebelum sharing dan mengetahui dampak serta pengaruh digital. Kedua dari sisi hukum perundangan dengan meletakkan batasan dan ketiga di sisi teknologi pembatasan platform media sosial yang bisa memfilter hal-hal negatif mudah tersebar di internet dan pengembangan mesin pencari seperti halnya Google agar lebih aman digunakan.

Menurut Arief, saat ini pemerintah Kabupaten Sumedang pun sedang mengembangkan system untuk menghimpun data sentiment public. Sehingga dapat diketahui saat ada hal viral semua dapat mudah diatasi dan diinformasikan dengan benar. Sebenarnya ada cara sederhana untuk melawan ujaran kebencian yaitu dengan memperbanyak ujaran cinta. “Sebab secara teks apa yang muncul di gadget kita akan sesuai algoritma, saat masyarakat sudah teliterasi digital, membiasakan untuk saring sebelum sharing, selalu mengontrol apa yang akan dituliskan di kolom komentar dan lebih banyak memposting konten produktif maka hal-hal negatif seperti ujaran kebencian akan menurun dan didominasi ujaran cinta,” tuturnya.

Webinar Literasi Digital di wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia, Novie Rohayani, Dosen STIE Tridarma Bandung dan Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Bersatu Menjaga Dunia Digital Tetap Aman

Ruang digital sebagai tempat tinggal baru masyarakat zaman sekarang. Dunia yang tanpa batas sekalipun teritori …

Leave a Reply