hitcounter
Friday , September 17 2021

Masyarakat Perlu Sering Saring Berita Palsu Agar Terhindar dari Bahaya Hoaks

Penyebaran informasi di era internet melalui medium perangkat komunikasi seperti ponsel pintar dan media sosial membuat hoaks atau berita palsu begitu mudah menyebar di masyarakat karena cepatnya. Hal ini cukup meresahkan, apalagi di tengah kondisi pandemi hoaks seputar kesehatan mengenai vaksin dan Covid-19 begitu banyak beredar.

Hoaks merupakan informasi bohong yang memiliki tujuan membentuk opini yang salah, menipu, menghasut, menyakiti, bersifat provokasi dan memecah belah dan menimbulkan keresahan bagi yang membaca maupun mendengarnya. “Di masyarakat hoaks juga menimbulkan relasi sosial yang tidak baik, bisa berupa saling ejek, saling debat, saling benci dan menimbulkan konflik serta perpecahan,” kata Fibra Trias Amukti, Editor in Chief Mommies Daily saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat I, pada Jum’at (13/8/2021).

Hoaks bisa dikenali dari sumbernya yang tidak jelas, memunculkan kebencian, dan cenderung tidak netral. Hoaks biasanya memanfaatkan fanatisme terhadap agama, memiliki judul headline yang provokatif, minta diviralkan, dan sering memanipulasi foto serta keterangan. Hoaks memiliki dampak yang tak bisa diabaikan seperti akan memengaruhi kesehatan mental seseorang dengan menimbulkan cemas, panik berlebihan, stres, takut luar biasa, dan mudah marah.

Hoaks sangat berbahaya dan dapat memecah belah masyarakat, oleh sebab itu perlu adanya pemahaman untuk mengenal ciri-ciri hoaks seperti yang disebutkan di atas. Fibra pun menjabarkan peran setiap orang yang mungkin bisa menjadi penyebar hoaks. Oleh karenanya setiap orang haruslah menjadi pembaca cerdas dengan membaca keseluruhan artikel, cek kembali siapa penulisnya, cek situsnya, cek nara sumber yang dikutip dalam tulisan, cek keaslian foto, dan cari berita pembanding.

Setiap orang juga berperan dalam melindunhi diri dari penyebaran hoaks. Sehingga tiap individu perlu mengedukasi diri sendiri dan orang terdekat. Di samping itu beri tahu bahwa ada ancaman pidana dari penyebaran hoaks. Sedari kecil anak pun bisa diajarkan oleh orang tua agar memutus rantai generasi hoaks dengan melatih anak berpikir lebih kritis dan biasakan anak untuk memahami pesan dari berita yang dibacanya. Orang tua pun bisa bekerja sama dengan pihak sekolah terkait edukasi hoaks.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir juga nara sumber lainnya seperti Klemes Rahardja, Founder The Enterpreneur Society, Ujang Rohman, Ketua Pengurus Karang Tatuna Kabupaten Bandung Barat, dan Andrew Pakpahan, Dekan Fakultas Teknologi Informasi Universitas Advent Bandung.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Bersatu Menjaga Dunia Digital Tetap Aman

Ruang digital sebagai tempat tinggal baru masyarakat zaman sekarang. Dunia yang tanpa batas sekalipun teritori …

Leave a Reply