hitcounter
Thursday , October 21 2021

Masyarakat Indonesia Rentan Terkena Hoaks

Saring sebelum sharing mungkin terdengar mudah. Namun jika tidak dilandasi dengan pengetahuan alias literasi untuk berselancar di dunia digital pastinya akan terasa rumit dan sulit. Apalagi dunia digital terus berkembang setiap saat, mau tidak mau kita pun terus mengikutinya.

Hal paling mudah terdampak pada masyarakat digital adalah hoaks, terutama warga Indonesia. Karena minat baca orang Indonesia masih jauh. Bahkan survei Central Connecticut State Univesity pada 2016 menyebut Indonesia berada di urutan kedua dari bawah negara dengan minat baca terendah.

Karenanya, masyarakat Indonesia menjadi orang yang paling rentan terkena hoaks. Padahal faktanya di Indonesia dari 43 ribu platform media online dan yang terverifikasi dewan pers hanya 200 saja. Sebegitu banyak platform yang tidak bisa dikonfirmasi sebagai media dengan kredibilitas.

Akhirnya 63% tidak dapat membedakan hoax dan jurnalisme dan 59% gagal mengidentifikasi portal yang kredibel. Begitu banyak survei yang menunjukkan keburukan netizen Indonesia dirasa Oktora Irahadi, Head of Communication Division Siberkreasi, CEO Infina sebagai dampak penggunaan internet yang tidak sehat.

“Karena kalua informasi ini kita dapat dari televisi sudah pasti sudah tersaring. Nggak mungkni terjadi. Pasti dari internet. Rata-rata 5 hoaks baru dibuat and disebarkan perharinya, membuat ketakutan dan ketidakpastian untuk rakyat Indonesia,” ujar Oktora dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (10/6/2021).

Oktora menyebutkan “Attention Span” atau rentang waktu manusia ketika mengkonsumsi konten hanya 8 detik. Jadi harus memastikan bahwa konten tulisan, gambar, video bisa memikat audience dalam waktu kurang dari 8 detik.

“Pastikan konten Anda menarik, karena bosenan mereka follow infulencer. Mereka reaktif karena tinggal ngetik doang. Nah pembuat konten jangan baper, karena mungkin mereka komennya sambil makan, minum, nyantai, jadi rugi kalau kita baper,” jelas Oktora.

Ia menegaskan yang harus ingat adalah virtual dan realita tidak terpishah. Dunia virtual itu extended reality, perpanjangan dari dunia nyata kita. Jadi berhati-hatilah di dunia maya apapun yang dikeluarkan akan berbalik.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi, ini juga menghadirkan pembicara lain seperti Rahmat Humala Putra Hasibuan (Relawan TIK), Al Akbar (Founder Sobat Cyber Indonesia), Fakrullah Maulana (Pengurus Pusat RTIK Indonesia), dan Key Opinion Leader Rainasty P. Kentjana Poetri

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Media Pembelajaran Moodle, Alternatif Pembelajaran Jarak Jauh

Saat pembelajaran jarak jauh dilakukan harus ada inovasi bagaimana cara para pendidik dapat memberikan materi …

Leave a Reply