hitcounter
Monday , September 20 2021

Masyarakat Harus Adaptif Terhadap Budaya Digital

Di tengah perkembangan zaman dan terus meningkatnya pengguna internet yang kini telah mencapai 196,7 juta jiwa, masyarakat memerlukan adanya perubahan mindset untuk menyambut sekaligus menjadi adaptif terhadap budaya digital.

Rajin mengadaptasi, menambah skill baru sesuai kebutuhan industri era digital dan berfikir lebih kritis terhadap apa yang bisa dilakukan agar lebih produktif dengan adanya budaya digital baru tersebut. “Namun tetap, dengan arus informasi yang semakin terbuka membuat setiap orang harus menyaring segala sesuatunya sebelum menyebarkan,” ujar Dee Rahma seorang Digital Marketing Strategis saat menjadi nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Senin (30/8/2021).

Berbagai peluang baru bermunculan dengan adanya internet dan penggunaan teknologi untuk mendukung kehidupan. Setiap orang pun bisa makin produktif dan kreatif di ruang digital dengan melakukan digital branding sebagai enterpreneur hingga membangun brand semakin besar dan semua ini ikut memunculkan kreator ekonomi baru.

Generasi baru pengguna platform digital, umumnya dengan media sosial yang memaksimalkannya untuk membangun komunitas digital bisa menciptakan pengaruh terhadap banyak orang melalui konten digital yang dibagikan. Seperti yang kini dikenal beberapa profesi baru yaitu Content Creator maupun Influencer, menciptakan kolaborasi positif di dunia digital dengan konten-konten positif. Misalnya dengan mengkomunikasikan bagaimana keragaman budaya Indonesia bagian Timur yang belum banyak diketahui orang.

Dee pun mengatakan, setiap produksi konten oleh individu tetap harus mengingat pentingnya filosofi Bhineka Tungga Ika, di mana perbedaan merupakan bagian dari kemanusiaan yang dibawa sejak kelahiran seorang individu. Sehingga sudah sepatutnya perbedaan untuk tidak dijadikan sebagai sumber kebencian, namun ingat untuk belajar menghormati dan saling menghargai.

Webinar Literasi Digital wilayah Kota Bogor, Jawa Barat, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Di webinar kali ini, hadir pula nara sumber seperti Sandy Natalia, Co-Counder of Beauty Cabin, Aditya Nova Putra, Ketua Jurusan Hotel & Pariwisata IULi, dan Ana Agustin, Managing Partner di Indonesian Global Lawfirm.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply