hitcounter
Monday , September 20 2021

Maksimalkan Konten Agar Menarik, Begini Tips dan Trik dari Dosen Komunikasi LSPR

Perubahan teknologi turut mengubah masyarakat di mana dulu hanya tersedia media konvensional. Dengan hadirnya internet, media online bertambah, internet dan media sosial pun membuka peluang baru untuk setiap orang menjadi seorang content creator.

Data statistik mengungkapkan, rata-rata setiap orang membutuhkan waktu sekitar 3 jam 14 menit dan di antaranya mereka aktif dalam menggunakan sosial media. Sosial media pun akhirnya kini dijadikan sarana untuk digital marketing.

“Untuk menjadi content creator dibutuhkan kemampuan yang cakap dalam menggunakan media digital yaitu konten apa saja yang mesti dan tidak perlu di buat,” ujar Kata Dosen Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR, Dendy Muris salah satu nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada Selasa (10/9/2021).

Dendy mengatakan seorang Content Creator bisa memaksimalkan konten jadi lebih menarik. Di antaranya dengan mengenali dan memikirkan jenis format media yang akan digunakan. Pertama ada teks dan gambar yaitu berupa blog, buku, cerpen, selain itu bisa membuat info grafis dengan unsur gambar, dalam format gambar seperti foto, hingga desain grafis berupa karikatur. Selain itu ada juga audio yang sempat booming seperti membuat Podcast. Lalu ada video yang biasanya disebarluaskan melalui channel YouTube.

Kemudian penuhi unsur teknis yang membuat content terasa menarik. Misalnya pada video ada unsur sinematic, saat membuat podcast bagaimana unsur suara, lalu untuk format media teks apakah foto memenuhi kaidah fotografi. Lalu buat semua unsur tersebut relevan dengan tren saat ini dan yang kelima sesuatu yang baru tidak pasaran.

Seorang content creator harus bisa mengidentifikasi audiens masing-masing. Karena saat ini pengguna media sudah tersegmentasi, audiens sudah semakin terbagi-bagi, sehingga content creator harus mengenali audiens.

“Kita bisa membuat pemetaan identifikasi beberapa aspek misal demografi, jenis kelamin, usia, apakah secara demografi pendapatan, secara geografi ada batasan tidak? Kalau media online tidak ada batasan, asalkan terkoneksi internet, asalkan memiliki aplikasi, selain itu kita bisa identifikasi, dari tipografi misal orang hobi otomotif, kuliner, teknologi, itu akan sangat beranekaragam,” kata Dendy lagi.

Sesuaikan konten dengan platform media sosial yang ada, seorang content creator harus tahu perbedaan twitter dan IG, menimbang apakah memerlukan semua platform. Tapi content creator juga mesti membuat diversifikasi konten agar ada eksklusifitas, dan tidak sama di semua platform. Sebagai contoh konten full version bisa dilihat melalui YouTube, sementara di Instagram hanya berupa teaser.

Tak kalah penting seorang conten creator harus memenuhi tahapan produksi yang baik. Hal ini biasanya dipenuhi conten creator professional, seperti tahapan pra produksi yaitu persiapan dimulai dari mencari ide hingga mengembangkan konsep membuat script, storyboard. Tahap selanjutnya ada produksi, sampai pasca produksi dengan evaluasinya.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Webinar kali ini juga mengundang nara sumber seperti Golda Siregar, Senior Consultant at Power Character, Iman Darmawan, Fasilitator Public Speaking, dan Rino, Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply