hitcounter
Tuesday , August 3 2021

Literasi Keuangan Penting untuk Masyarakat

Di ranah digital, selain harus meningkatkan literasi yang terdiri dari empat pilar yakni budaya bermedia Digital (Digital Culture), aman bermedia (Digital Safety), etis bermedia digital (Digital Ethics), dan cakap bermedia digital (Digital Skills). Ada literasi lain yang harus ditingkatkan para warga net.

Romzy Ahmad, Wakil Ketua Gerakan Literasi Nasional mengatakan, literasi  keuangan bisa membuat masyarakat tidak terkena penipuan pinjaman online. Pemerintah menjadikan ini prioritas, Kementerian Keuangan, OJK dan pihak terkait sedang bekerja karena banyak sekali masyarakat menjadi korban pinjaman online. Seperti bunga tinggi.

“Jadi literasi keuangan penting juga untuk menghindarkan masyarakat dari jeratan pinjaman online. Mereka lebih mengerti bagaimana seharusnya mengatur keuangan dan paham memilih aplikasi yang terdaftar,” ujarnya saat menjadi pembicara Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (9/6/2021).

Literasi hukum juga yang sebaiknya dimiliki warga net agar mengetahui batasan. Apa saja yang tidak boleh dan masih dalam tahap kewajaran dalam aktivitas digital. Tentu, ini mewaspadai kita terjerat UU ITE karena pencemaran nama baik atau perilaku tidak menyenangkan. Romzy juga menambahkan, literasi agama penting kaitannya dengan kelompok yang transnational konservatif banyak banget mungkin berbahaya punya pandangan keagamaan yang sedikit atau sangat radikal harus juga diimbangi dengan literasi keagamaan.

Literasi agama dibutuhkan untuk lebih toleran kemudian berimbang dan adil dan yang terakhir adalah kebudayaan atau literasi budaya. Ancaman yang tidak terasa namun sebenarnya jadi masalah yang universal. Sekarang karena kita mau globalis karena lebih banyak di ruang digital pertukaran budaya sangat terasa akhirnya kearifan lokal kita terdegradasi.

“Indonesia padahal punya banyak sekali kebudayaan atau local wisdom kearifan lokal yang perlu sebenarnya kita pegang. Jangan-jangan nanti alasan mengapa hubungan baik sama ibumu itu bukan karena local wisdom tapi karena terinspirasi dari Cristiano Ronaldo yang sayang sama ibunya. Jadi kita mempelajari sesuatu malah justru dari dari apa namanya literasi universal yang kita dapatkan secara sembarangan di media sosial,” ungkapnya.

Kebudayaan merupakan produk-produk dialektika masyarakat yang sudah melakukan proses dengan waktu lama itu maka rasa lokal harus dirawat karena bagaimanapun kearifan lokal inilah yang bisa membentuk jati diri bangsa kita. “Jika informasi yang hadir di sosial media yang itu sifatnya universal dan mungkin juga tidak ada cultural batasan geografis dan sebagainya, khawatirnya mendegradasi kesadaran kita soal kebudayaan kita,” jelasnya.

Pada kesempatan Webinar ini selain Romzy turut hadir sebagai pembicara Anita Wahid (Wakil Ketua Siberkreasi), Steve Pattinama (Content Creator), Annisa Junaidi (Pengurus RTIK Sumatera Barat), dan Key Opinion Leader (KOL) Nattaya Laksita Melati.

Webinar Literasi Digital Nasional 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital wilayah Kabupaten Kota Bandung, Jawa Barat yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi, ini merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Yuk Sebarkan Hal Positif yang Selaras dengan Nilai Pancasila di Ruang Digital

Kegiatan masyarakat sekarang ini mulai beralih menggunakan media digital. Dikarenakan, transformasi digital kini sudah mencapai …

Leave a Reply