hitcounter
Monday , September 20 2021

Lawan Hoaks di Dunia Digital

Besarnya angka pengguna internet di Indonesia saat ini secara tidak langsung menjadikan kita sebagai masyarakat digital. Akan tetapi, masih banyak yang tidak menerapkan etika dalam berdigital sehingga menimbulkan potensi terciptanya ruang digtal yang buruk dan konten negatif.

Depi Agung, seorang pegiat pemeriksa fakta menjelaskan, etika digital merupakan kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, meempertimbangan, dan mengembangkan tata kelola etika digital dalam kehidupan sehari-hari. Dengan netiket kita bisa menyeleksi sikap dan perilaku kita yang boleh dan tidak boleh dilakukan di ruang digital.

“Hal yang mendasar dari etika digital ialah kita harus sadar kalau kita berinteraksi layaknya di dunia nyata. Jadi harus hati-hati,” ujar Depi dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (26/8/2021).

Hoaks sebagai salah satu tanda bahwa seseorang tidak menerapkan etika digital dengan baik. Hoaks ini diartikan sebagai berita palsu atau berita bohong.

Hoaks dapat menciptakan kebingungan, kecemasan, bahkan kegaduhan pada publik. Dampak negatif lainnya dari hoaks bisa merusak reputasi seseorang, menimbulkan perpecahan, menyesatkan, serta mengganggu tatanan demokrasi/politik.

Depi memaparkan, hoaks ini terdiri dari 3 tipe disorder informasi, yaitui  misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. Pertama, misinformasi di mana hoaks dibuat tanpa tujuan tertentu. Kedua, disinformasi yakni hoaks yang sengaja dibuat dan dimanipulasi sedemikian rupa untuk tujuan tertentu.

Ketiga, malinformasi yakni berita benar yang digunakan untuk menimbulkan kekacauan. Misinformasi dan disinformasi memiliki tipe lagi, yakni satire, konten yang menggiring opini, konten palsu, konten manipulasi, dan konten tidak sesuai.

Beberapa motif seseorang menyebarkan hoaks karena ingin mendorong sudut pandang pribadi, menghasilkan uang, ingin menghibur, dan ingin membantu. Berdasarkan motif tersebut, penting bagi kita untuk selalu saring sebelum sharing kepada orang lain dengan memperhatikan tiga hal, yairu sumber berita, penyebar berita, dan bukti dari berita tersebut.

“Misalnya ketika ada informasi bawang putih bisa menyembuhkan covid, coba ditanya kepada yang lebih ahli, seperti dokter dan lainnya. Ini untuk meminimalisir kita terjebak informasi-informasi palsu,” kata Depi mencontohkan.

Ia menyampaikan, menyaring informasi dapat dilakukan dengan membudayakan berpikir kritis atas setiap informasi yang diterima, tidak menyebarkan rumor yang belum jelas faktanya, selalu mencari rujukan berita serupa, dan dalam melawan hoaks, kita bisa selalu memanfaatkan situs yang tersedia seperti cekfakta untuk mengecek informasi benar atau tidak.

Ia mengimbau, apa yang kita bagikan di media sosial menggambarkan diri kita sebenarnya. Jika kita menyebarkan informasi hoaks terus menerus, itu akan memberi anggapan diri kita sebagai penyebar hoaks.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (26/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Maria Ivana Simon (Graphic Designer), Siti Kulsum (Guru BK MAN 2 Bandung), Asep H. Nugroho (Dosen Fakultas Teknik UNIS), dan Fanny Fabriana (Key Opinion lEADER)..

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply