hitcounter
Monday , September 20 2021

Kurangnya Literasi Digital, Fakta di Balik Label Netizen Indonesia Tidak Sopan

Etika merupakan nilai atau kualitas yang menjadi standart dan penilaian moral mencakup konsep mengenai benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Dengan berkembangnya teknologi dan penggunaan internet, akhirnya etika juga diperlukan untuk interaksi di ruang digital yang mengatur sistem legal dan moral bagaimana hal tersebut memengaruhi individu maupun masyarakat.

“Sejatinya tidak terlalu banyak perbedaan etika di dalam dunia nyata dan di dalam dunia digital. Terlebih setelah pandemi kehidupan kita 100% telah berubah, tinggal di rumah saja, prokes ketat selama bekerja, pakai masker, wajib cuci tangan, sekolah dan perkuliahan online. Secara langsung kehidupan digital sudah jauh lebih akrab dengan kita,” ujar Nikita Dompas, Producer & Music Director yang menjadi nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, pada Senin, (9/8/2021).

Survei Microsoft Digital Civility Index 2021 menyebutkan bahwa warganet Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Dalam laporan tersebut terdapat fakta yang belum dibahas yaitu penyebab utamanya adalah tingkah laku berinternet dari orang dewasa usia 18-74 tahun.

Salah satu temuan penting dalam laporan tersebut skor ketidaksopanan orang dewasa di Indonesia sebesar 83, naik 16 poin dari tahun lalu. Sementara perilaku remaja usia 13-17 bertahan di angka 68 tanpa adanya perubahan. Sementara tren global memang menunjukkan bahwa remaja adalah kelompok yang justru memimpin pulihnya kesopanan global sepanjang 2020. Meningkatnya skor ketidaksopanan pada orang dewasa di Indonesia utamanya dipicu oleh peningkatan hoaks dan penipuan.

“Kecenderungan orang dewasa yang berperilaku buruk di internet, berkaitan dengan rendahnya tingkat literasi mereka,” kata Nikita.

Tahun 2020 dari lembaga analisis Katadata Insight Center (KIC) serta Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mengatakan bahwa Gen X (usia 40-55) secara umum memiliki literasi digital yang lebih buruk dari kelompok remaja dan milenial muda. Hal tersebut kemudian diperparah ketika mereka menggunakan media sosial percakapan terutama Whatsapp untuk menyebarkan berita dan informasi.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia, Reza Hidayat, CEO Oreima Films, dan Rino, Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply