hitcounter
Wednesday , May 18 2022

Keterampilan yang Harus Dimiliki di Era Digital

Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 21 Oktober 2021 di Parigi, Sulawesi Tengah. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Tema yang diangkat pada hari ini adalah “Rebut Peluang di Dunia Digital”.

Program kali ini dipandu oleh Artha Senna selaku moderator dengan menghadirkan empat pembicara yang terdiri dari Patrice Sagay selaku Startup Ecosystem  Builder, Mochammad Fachry selaku Copywriter Specialist, Novalita  Fransisca Tungka selaku dosen & peneliti, dan Alia Noor Anoviar selaku HR Consultant & Traveller #KelilingIndonesia. Kegiatan yang kembali diadakan di Parigi ini diikuti oleh 677 peserta. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 peserta.

Acara dibuka dengan video sambutan dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengenai pentingnya literasi digital untuk kemajuan bangsa. Adapun yang tampil berikutnya adalah Patrice Sagay sebagai pembuka sesi materi dengan paparan bertema “Trend Peluang dan Tantangan dalam Keterampilan Digital”. Patrice menjelaskan, hingga tahun 2025 ke depan, lebih dari 50% pekerja atau pemilik usaha harus memiliki kemampuan atau keterampilan baru. Namun, hingga saat ini, Indonesia masih menghadapi tantangan di mana kebutuhan tenaga kerja ahli dalam bidang digital masih belum mencukupi. “Keterampilan yang diperlukan di era digitalisasi, di antaranya kemampuan memecahkan masalah yang kompleks, kemampuan mendesain teknologi dan program, serta jiwa kepemimpinan,” katanya.

Sesi dilanjutkan oleh Mochammad Fachry dengan tema “Etika Berjejaring: Jarimu Harimaumu!”. Dalam sesinya, ia menyebutkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 8 jam/hari untuk berselancar di dunia maya. Sehingga, masyarakat Indonesia berisiko lebih tinggi terpapar hoaks serta provokasi jika tidak dibekali pengetahuan literasi digital yang mumpuni. Menurutnya, masyarakat perlu menyaring informasi sebelum menyebarkannya di media sosial, mengingat informasi yang diterima tersebut belum tentu benar. “Jangan sebar informasi jika Anda ragu tentang kebenarannya,” imbaunya.

Alia Noor Anoviar selaku pemateri ketiga membawakan tema “Multikulturalisme di Era Digital”. Ia menjelaskan bahwa ujaran kebencian dapat terjadi karena adanya perbedaan seperti SARA, sifat, maupun perilaku. Perbedaan tersebut biasanya menyebabkan kegaduhan di media sosial. Ia juga menyayangkan perilaku beberapa individu yang menggunakan isu-isu sensitif sebagai tema konten hanya untuk mengejar ketenaran di dunia maya. “Jika kita mendapat akses ke media sosial, gunakan akses tersebut dengan sebaik-baiknya,” pesan dia.

Sesi pemberian materi diakhiri oleh Novalita Fransisca Tungka yang mengusung tema “Keamanan Digital”. Seperti halnya di dunia nyata, aktivitas kita di dunia maya juga meninggalkan jejak yang disebut jejak digital. Jejak ini terbagi menjadi dua, yaitu jejak digital aktif dan jejak digital pasif. Menurut Novalita, jejak digital aktif dapat dihapus, seperti aplikasi favorit, lagu yang diunduh, serta situs yang sering dikunjungi. Sebaliknya, jejak digital pasif tidak dapat dihapus sepenuhnya. “Jaga jejak digital kita dengan jejak yang positif,” ungkasnya.

Selanjutnya, moderator membuka sesi tanya jawab yang disambut meriah oleh para peserta. Selain bisa bertanya langsung kepada para narasumber, peserta juga berkesempatan memperoleh uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Salah satu pertanyaan menarik datang dari peserta yang menanyakan bagaimana cara mengontrol anak agar tidak kecanduan gawai. Novalita menjawab bahwa orang tua dapat menyediakan beragam permainan yang merangsang motorik, daya pikir, dan kreativitas anak. Mainan tersebut tidak harus mahal, contohnya seperti membawa pensil warna dan kertas agar anak sibuk mengasah kreativitas dibanding memainkan gawai.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, silakan kunjungi https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.

About Pasha

Check Also

Pembayaran contactless raih momentum di Indonesia

Visa, pemimpin dunia dalam pembayaran digital, hari ini mengungkapkan pembayaran contactless semakin populer di Indonesia, …

Leave a Reply