hitcounter
Friday , September 17 2021

Kesadaran Beretika di Ruang Digital Harus Dimulai dari Diri Sendiri

Saat ini penguna internet di dunia telah mencapai 4,66 miliar atau sebanyak 59,5% dari populasi global. Dari jumlah tersebut 92,6% atau 4,32 miliar mengaksesnya melalui perangkat seluler. Sementara, di Indonesia pengguna internet telah mencapai 202,6 juta jiwa meningkat sebanyak 27 juta jiwa selama pandemi berlangsung. Penetrasi internet di Indonesia sendiri kini mencapai 73,7% pada Januari 2021.

“Bayangkan jika tidak diimbangi dengan cara berinteraksi yang baik, apa yang akan terjadi?,” ujar Intan Maharani, COO PositiVibe saat menjadi nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I,  pada Jumat (27/8/2021).

Dengan jumlah pengguna yang banyak dan heterogen itu diperlukan etika saat berinternet atau netiket, yaitu kumpulan perilaku yang baik dan dianjurkan di internet. Seperti mematuhi dan menerapkan perilaku online yang baik bukan hanya wajib, tapi sudah menjadi tanggung jawab setiap orang.

Kebiasaan untuk menerapkan etika saat berinteraksi di dunia digital bisa dilakukan dalam beberapa hal yang kini sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Misalnya saat mengikuti teleconference yang sama halnya dengan rapat atau pertemuan offline. Sebelum ikut serta biasakan untuk melakukan persiapan diri, memakai pakaian yang pantas meskipun pertemuan bersifat virtual, hadir tepat waktu, mematikan mikrofon jika tidak berkepentingan, menyalakan kamera video sebagai bentuk menghargai siapa oun yang ada di ruang meeting termasuk penyaji materi, dan memberi tanda terlebih dulu saat akan mengemukakan pendapat.

Di media sosial sendiri, etika tak tertulis yang berlaku misalnya saat memilih bahasa dan tutur kata yang baik, sopan dan informatif untuk dibagikan. Memilih teman di media sosial pun seperti halnya memilih lingkungan di dunia nyata, carilah akun positif dan informasi yang positif. Pastikan juga informasi valid jika ingin membagikannya, sebaiknya pilih untuk tidak berkomentar atau diam daripada membubuhkan komentar negatif. Terpenting hindari untuk mengunggah informasi dan data pribadi di media sosial.

“Mulai dari diri sendiri. Ingatlah bahwa rekam digital Anda dapat diakses secara global dan dapat dapat diakses oleh generasi di kemudian hari. Berinteraksilah sebagai individu dan warga negara Indonesia yang baik,” tutur Intan.

Webinar Literasi Digital di Kota Ciamis, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia, Irma Nawangwulan, Lecture di IULI, dan Ana Agustin, Managing Partner di Indonesian Global Lawfirm.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Bersatu Menjaga Dunia Digital Tetap Aman

Ruang digital sebagai tempat tinggal baru masyarakat zaman sekarang. Dunia yang tanpa batas sekalipun teritori …

Leave a Reply