hitcounter
Sunday , November 28 2021

Kembali Pada Dasar Negara

Perubahan budaya terjadi sekarang ini sangat terlihat, bagaimana aktivitas yang biasa dikerjakan menjadi berubah. Perubahan cipta rasa karya manusia ke dalam era digital, suka tidak suka dengan adanya teknologi informasi masyarakat dipaksa untuk berubah.

Selain adanya teknologi, masyarakat juga didorong oleh beberapa faktor seperti sesuatu hal yang tidak pernah kita duga adanya pandemi di seluruh dunia.  Kita tidak bisa beraktivitas seperti biasa, jadi hanya di rumah saja melakukan aktivitas sangat terbatas. Sehingga membutuhkan sebuah bantuan yaitu teknologi digital.

Bukhori Relawan TIK Sukabumi, dari berbagai macam transformasi digital ada beberapa dampak yang masyarakat rasakan karena terlalu nyaman juga terlalu dimanjakan oleh fasilitas digital. Salah satunya juga bagaimana menurunkan sikap berbangsa dan bernegara di dunia digital. Karena merasa bebas sehingga masyarakat kerap lupa dengan budaya adat ketimuran dan etika.

“Terbiasa mengikuti budaya orang lain sehingga kita lupa dengan budaya sendiri. Terlalu sering membicarakan atau mem-posting budaya negara lain membuat budaya Indonesia tidak pernah sekalipun kita bahas atau kita bangga memilikinya. Banyak juga etika atau adat ketimuran itu yang juga ikut dilupakan,” ungkapnya saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (14/10/2021) siang.

Seharusnya masyarakat Indonesia tidak melupakan kebudayaan diri sendiri karena memiliki dasar Pancasila, UUD 1945. Dasar negara itu mengatur bagaimana kehidupan berbudaya. Mengetahui apa yang menjadi kebiasaan dan ciri khas bangsa ini. Bagaimana bernegara dan bermasyarakat dengan rukun dan aman serta sesuai dengan karakter bangsa.

Penerapan nilai Pancasila sebagai dasar berbudaya di dunia digital sebenarnya sangat mudah. Bukhori meyakinkan, hanya mengikuti nilai-nilai yang ada pada setiap sila Pancasila. Setiap sila pada Pancasila memiliki nilai nilai dasar dalam kehidupan seperti nilai cinta kasih sesuai dengan sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa.

“Seluruh masyarakat di Indonesia memiliki kepercayaan dan agama yang mereka yakini. Untuk itu sudah sepatutnya mereka menjalani apa yang diperintahkan oleh agama mereka itu. Seperti menebar cinta kasih. Bagaimana di ruang digital dapat hidup selaras tanpa memandang perbedaan soal agama,” tuturnya

Nilai setara sesuai dengan sila ke-2 kemanusiaan yang adil dan beradab. Bagaimana memperlakukan orang lain dengan adil dan manusiawi di ruang digital. Jangan pernah membeda-bedakan seseorang berdasarkan harta, kedudukan atau apapun. Seluruh warga negara Indonesia ini setara sama dimata hukum.

Kemudian nilai harmoni mengutamakan kepentingan Indonesia di atas kepentingan pribadi atau golongan di ruang digital. Ini sesuai dengan sila ke-3 persatuan Indonesia.

Selanjutnya nilai demokratis sesuai dengan sila ke-4 memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bebas berekspresi dan berpendapat di ruang digital. “Indonesia sebagai negara demokrasi, kita diberi hak untuk dapat berkumpul berserikat dan mengeluarkan pendapat namun tetap harus sesuai dengan peraturan yang berlaku dan juga tetap sopan dalam mengeluarkan pendapat,” tegas Bukhorim.

Terakhir nilai gotong-royong yang menjadi karakteristik bangsa Indonesia. Bersama-sama membangun ruang digital yang aman dan etis bagi setiap pengguna. Gotong royong tidak hanya dapat dilakukan di dunia luar jaringan tetapi juga di dalam virtual.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (14/10/2021) siang, juga menghadirkan pembicara, Santia Dewi (Pebisnis Online), Eko Prasetyo (Co-Founder Syburst Corporation), Arya Shani Pradhana (CEO Tekape Workspace), dan Ribka sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Merawat Kebudayaan Negeri Sendiri di Tengah Serangan Globalisasi

Pertemuan ragam budaya lain di ruang digital terjadi karena jejaring internet. Aktivitas online semakin tinggi …

Leave a Reply