hitcounter
Thursday , August 5 2021

Jejak Digital Menentukan Pekerjaan di Masa Depan

Dalam dunia digital, etika sangat penting untuk dilakukan sebenarnya untuk menjaga diri sendiri. Menjaga citra diri dengan berkelakuan baik meskipun dengan warganet lain yang kita tidak kenal.

Mario Antonius Birowo, Dosen Atma Jaya Yogyakarta yang juga pengurus Jaringan Penggiat Literasi Digital (Japelidi) mengatakan, di dunia digital kita ibarat seperti sedang menulis sejarah untuk masa depan. Hal ini yang juga harus disampaikan para orangtua kepada anaknya terutama para remaja yang sudah berselancar sendiri bahkan sudah memiliki akun media sosial.

“Bukan hanya mereka pandai mengoperasikan perangkat, membuat konten menarik namun juga harus memperhatikan jejak digital untuk masa depan,” ungkapnya saat menjadi pembicara di Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/7/2021).

Anak-anak harus paham jika suatu saat bercita-cita sekolah di luar negeri, mendapatkan beasiswa. Sedari sekarang harus menanam hal positif di media sosial sebagai jaminan. Ketika akan melamar pekerjaan, kalau dulu ditulis ya kemudian dibuat langsung dalam sebuah dokumen tapi CV zaman sekarang bisa dilihat dari mana aja tidak harus yang dikatakan langsung atau yang ditulis tapi bisa dicari oleh yang mengambil keputusan jejak digital kita.

Anak muda sebagai inovator startup pun akan dilihat personal branding-nya oleh investor saat akan berinvestasi. Sebagai orang tua penting untuk mendukung upaya anak auntuk melakukan apa yang mereka ingin.

“Tugas orang tua adalah menanamkan suatu nilai, banyak yang tidak setuju dianggap sebagai otoriter tapi bagi saya itu autoriter kewenangan dari orang tua atau orang dewasa untuk membantu kelompok muda. Ketika anak di dunia digital terus pantau dan berikan aturan yang tegas sama seperti di dunia nyata,” jelas Anton.

Dunia digital anak-anak harus sangat penting untuk dijaga perilakunya sebab bukan hanya merugikan diri mereka sendiri namun orang lain. Perilaku buruk anak di media digital misalnya melakukan cyber bullying dapat berakibat merusak mental orang lain.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Bambang Iman Santoso (CEO Neuronesia), Vitalia Fina Carla (Dosen Universitas Bali Internasional), I Gusti Wikranta Arsa (Relawan TIK Bali) dan Btari Sekar Ayu sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Paham Batasan di Dunia Tanpa Batas

Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya masing-masing, mengutarakan ide-ide dan pendapat secara bebas melalui …

Leave a Reply