hitcounter
Thursday , October 21 2021

Internet Menpengaruhi Kehidupan Manusia

Merasa tidak bisa lepas dari gawai, media sosial dan semua yang berada di dunia digital? Itulah bagaimana sekarang internet dirancang, menciptakan kebahagian tersendiri membuat seakan kita tidak bisa lepas dari genggaman dunia digital.

Tidak heran, memang manusiawi seperti itu. Content Creator Vhie Saleindra menyebutnya Inter Transmiter kepanjangan dari Internet dan neurotransmiteri. Istilah yang dia buat sendiri untuk menggambarkan bagaimana internet dapat mempengaruhi diri kita.

Neurotransmiter ini ialah senyawa kimia yang memiliki peran sebagai pengantar stimulus ke sel syaraf baik di otak maupun di otot. Stimulus ini punya pesan hormon dopamin. Hormon dopamin ini dapat menimbulkan perasaan bahagia, seperti jatuh cinta, gembira, termotivasi, inspirasi sampai ke rasa percaya diri.

Hubungannya dengan internet ialah karena internet sekarang ini lebih condong didesain untuk memacu pelepasan hormon dopamin tadi. “Hormon kesenangan yang ada kaitannya dengan reaksi instan kita. Contohnya tombol like, share, favorite, now trending dan filter. Tujuannya agar kita selalu berlama-lama di dunia digital,” ungkapnya dalam Webinar Gerakan Nasional 2021 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (21/6/2021).

Lantas, timbul pertanyaan, bukankah sebuah hal yang bagus jika kita terus bahagia karena hormon dopamin tersebut? Sebab seseorang akan selalu merasa bahagia.

Ternyata kenyataannya tidak seperti itu, hormon dopamin jika disuntikan ke dalam tubuh dan kelebihan dosis akibatnya seseorang menjadi terobsesi. “Manusia kalau sudah obses yang terjadi pertahanan dirinya menjadi bias atau unsur kehati-hatiannya menjadi kabur. Kita juga akan selalu berburu rasa kesenangan itu,” ujarnya.

Bahkan, efek buruknya seakan akan tidak dapat lepas dan selalu merasa kurang lama untuk memegang gawai. Seperti orang kelaparan jika kita tidak menggunakan media sosial atau hal-hal di dunia Internet dia akan tidak tenang.

Lebih jauh, jika dopamin terlalu banyak berada di dalam tubuh seseorang dapat membuat orang terkena gangguan skizofrenia. Gangguan mental yang sekarang sering dialami gejalanya oleh banyak orang tapi tidak menyadarinya.

Skizofrenia ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berpikir bahkan perubahan perilaku. Penderitanya jadi sulit fokus untuk membedakan mana dunia nyata dan halusinasinya.

Saat sedang menderita skizofrenia yang penting disadari adalah seseorang itu berada di mana. Mereka sedang tiduran tanpa aktivitas. Bisa juga mereka justru sedang berada di dalam dunia digital dan ini yang berbahaya, mereka tidak dapat membedakan mana dunia maya dan nyata.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (21/6/2021) ini diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Siberkreasi. Selain Vhie Sailendra, hadir juga Rifki Indrawan (Relawan TIK), Lintang Ratri (Jaringan Penggiat Literasi Digital), Indriyatno Banyumurti (Tim komunikasi Publik Tim Penanganan Covid-19), dan Key Opinion Leader Jessica Alexa.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Media Pembelajaran Moodle, Alternatif Pembelajaran Jarak Jauh

Saat pembelajaran jarak jauh dilakukan harus ada inovasi bagaimana cara para pendidik dapat memberikan materi …

Leave a Reply