hitcounter
Wednesday , May 18 2022

Hybrid Menjadi Budaya Baru di Tengah Kondisi Pandemi

Masa depan industri pertunjukan dan bidang lain yang bergantung pada interaksi langsung di masa transformasi digital berubah setelah pandemi. Hybrid yaitu konsep yang menggabungkan antara offline dan online melalui bantuan teknologi dan kemapuan digital digadang-gadang menjadi jawaban atas permasalahan tersebut.

“Hybrib adalah jawabannya, konsep ini harus kita jalankan untuk mendapatkan pengalaman interaksi secara langsung dengan kondisi yang terbatas karena adanya pandemi. Tapi di sisi lain kita mendapatkan exposure atau market yang luar biasa besar melalui online,” kata Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, pada Kamis (28/10/2021).

Seperti beberapa acara yang sempat dia jalankan, secara offline memang hanya dihadiri oleh 900 orang namun disaksikan juga online oleh 28.000 orang di seluruh dunia. Hingga acara tersebut diliput oleh New York Times dan Strait Times yaitu media dari luar negeri.

Lebih lanjut dia mengatakan, dalam memproduksi konten seseorang tetap harus mengingat tiga hal. Pertama konten harus memberikan inspirasi, kedua memberikan solusi dan ketiga memberikan vibrasi atau kebahagiaan untuk orang lain.

“Kalau kita terbiasa dengan tiga dampak tersebut dengan menjadikannya trending atau membawa followers yang banyak, maka kita memberi dampak positif kepada manusia di dunia ini, karena dunia digital merupakan algoritma jika kita terkunci pada tiga hal maka kita tidak akan kemana-mana,” tuturnya.

Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Di webinar kali ini, hadir pula nara sumber seperti Cyntia Jasmine, Founder GIFU, Asep H Nugroho, Dosen Fakultas Teknik UNIS, Irma Nawangwulan, Dosen IULI, dan Yudho Boengkoes, seorang Vlogger.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Pembayaran contactless raih momentum di Indonesia

Visa, pemimpin dunia dalam pembayaran digital, hari ini mengungkapkan pembayaran contactless semakin populer di Indonesia, …

Leave a Reply