hitcounter
Monday , September 20 2021

Hati-Hati Jejak Digital Bisa Sebabkan Kehilangan Pekerjaan

Selama masa pandemi, transformasi digital terus mengalami percepatan, terutama memengaruhi bagaimana masyarakat berinteraksi di dunia digital. Mulai dari mencari informasi, kegiatan belajar, bekerja, transaksi keuangan, hingga berbelanja saat ini dilakukan secara mobile lewat layar ponsel. Saking cepatnya, sebagian masyarakat yang masih awam belum memanfaatkan digital ini sesuai etika.

“Survei yang dilakukan oleh Microsoft mengungkap masyarakat Indonesia sebagai netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara,” kata Syarief Hidayatulloh, Digital Marketing Strategic Hello Morning Monday saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I, pada Kamis, (2/9/2021).

Menurut Syarief hal tersebut menjadi predikat buruk yang diakibatkan dari komentar, cyberbullying, ujaran kebencian, hingga hoaks yang ada di media sosial. Masalah tersebut menjadi serius sebab jejak digital yang ada di media sosial dan internet tidak bisa hilang. Dia pun mengajak masyarakat agar mulai memanfaatkan teknologi secara beretika, sebab jika tidak karier atau masa depan pun bisa hilang.

Inilah salah satu kesimpulan yang dilakukan YouGov, menurut survei yang dipublikasikan di situs World Economic Forum tersebut perusahaan akan memeriksa latar belakang dan identitas pribadi di sosial media pelamar. Hampir semua perekrut tidak ingin mempekerjakan pegawai yang memiliki unggahan kata-kata kasar, sering memposting hal negatif, atau berbagi informasi hoaks, karena itu bijaklah dalam bermedia sosial.

Syarief mengingatkan agar setiap individu membangun kualitas diri dalam hal memiliki etika digital, berilmu dan berdaya sehingga bisa menjadi pribadi unggul di lingkungan. Akan tetapi unggul di sini bukan dari kemampuan dan kecerdasan diri sendiri, sebab di era digital ini diperlukan kolaborasi atau dengan tim kerja. Penerapan kolaborasi digital ini menjadi salah satu kemampuan yang harus dimiliki setiap orang di masa kini. Terutama di masa pandemi Covid-19, penerapan kolaborasi digital sangat dibutuhkan untuk kegiatan bisnis dan mendukung aktivitas masyarakat.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Klemes Rahardja, Founder The Enterpreneurship Society, Dee Rahma, seorang Digital Marketing Strategist, dan Fiona Damanik,seorang Psikolog dan Konseler di Universitas Multimedia Nusantara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

About Pasha

Check Also

Beda Generasi, Cara Mendidik Anak di Era Digital

Generasi Z dan Anak-anak yang lahir dan tumbuh di era ketika penggunaan internet dan teknologi …

Leave a Reply